Index Labels

"Menuju Stasiun 10" Stasiun Pameran Perupa Sulsel

. . Tidak ada komentar:


Kolom Budaya Harian Fajar 13 April 2014
“Era 70 sampai 80-an merupakan masa emasnya seni rupa Sulsel, tapi setelah itu hilang karena para perupa bagai terpecah-belah lalu membangun kelompoknya masing-masing. Para seniman lalu seperti hantu. Ada, tapi tidak kelihatan.” Begitu kata Zam Kamil  yang tengah ditemani Budy Haryawan di pelataran rumah Budayawan Sulsel, Asdar Muis di daerah Sudiang. Budi Haryawan sedang menyemprotkan sejenis vernis lukisan pada lukisan potret yang dilukisnya tahun lalu (2013).
“Itulah sebabnya kami menggagas ide silaturahmi sekaligus pameran lukisan ini. Kami hendak membuat para seniman bagai terpanggil kembali,” sambung Budi Haryawan. Hal inilah yang melatarbelakangi tujuh perupa asal Sulawesi Selatan yakni Budy Haryawan, Zam Kamil, Ahmad Fauzi, Asman Djasmin, Ishakim, Amrullah Syam dan Ahmad Ansul, mengadakan pameran lukisan sederhana dengan tajuk arisan karya.
Pada pertemuan awal yang diadakan di rumah Ahmad Fauzi, silaturahmi dilakukan mulai pukul 00:00 yang dihadiri ke-tujuh perupa tersebut ditambah Zul Fiqhri (UNM) dan Kadeck Roy Atmika (UNM).
Memasuki sesi ke dua silahturahmi, para perupa bertambah menjadi 13 orang dan mulai membawa karya mereka untuk didiskusikan dan diapresiasi. Jadwal dan cara silahturahmipun berubah pada sesi ke dua yang dilakukan di rumah Budi Haryawan. Para perupa  memajang karya lukisannya di dinding rumah kemudian duduk berselengka di lantai untuk berdiskusi. Silaturahmi dilakukan mulai pukul 13:00.
“Sering-sering bersilahturahmi dan memamerkan lukisannya bisa memotivasi para perupa untuk terus berkarya,” tutur Ahmad Fausi di tengah diskusi yang diadakan di rumah Budi Haryawan.
Pada diskusi, mereka saling memberikan apresiasi dan berbagi pengalaman tentang seni rupa yang ditekuni.  Karya-karya kemudian dipajang dan difoto bersama pelukisnya yang diakhiri dengan jejalan pertanyaan rekan seniman tentang karyanya sebagai bentuk apresiasi. Pada sesi pertama hingga ketiga, silaturahmi dilakukan setiap minggu pada siang hari dan para seniman lain mulai  berdatangan, diantaranya adalah Mike Turusy, Haroen PM, Jenri Passasan, A.H. Rimba, Ongky, Faisal, Hamsah dan Muhammad Sry Yudi.
“Di sini kami juga mau membuktikan bahwa karya seni rupa Sulsel memang benar-benar ada!” seru Budi Haryawan dengan penuh semangat pada diskusi di Pantai Akkarena, Stasiun 4.
Bagai Stasiun Kereta
            Foto-foto kegiatan dipublikasikan lewat Facebook pada grup Ruang Apresiasi Seni Budaya yang anggotanya ribuan pengguna Facebook dan rata-rata adalah seniman, baik dari Sulawesi Selatan maupun dari luar Sulawesi. Para perupa mengundang respon masyarakat dan perupa lain untuk datang dan melihat pameran sederhana yang ditawarkan oleh kelompok perupa ini.
Suasana pameran dan diskusi bersama door to door #3 di rumah-studio Zam Kamil. Di antara perupa, menyempatkan diri hadir khusus sebagai bentuk dukungan dan apresiasi tinggi pada kegiatan sederhana ini, kanda Asdar Muis dan Nur Alim Djalil, terimakasih atas kehadirannya di tengah-tengah perupa Makassar, sungguh ini sebuah kehormatan bagi kami, salam!” tulis Ahmad Fauzi dengan nama akun Facebook Fauzi-Oci Art pada foto suasana pameran sesi tiga di kediaman Zam Kamil yang diupload pada Januari 2014.
Responpun berdatangan. Sejumlah perupa dan pecinta seni rupa lukis mulai menghubungi para kelompok perupa ini untuk menanyakan kegiatan pameran mingguan yang hingga sesi ke-3 belum memiliki nama khusus. Sampai akhirnya, menjelang pameran ke-4, sebuah komentar akun facebook menginspirasi para perupa untuk memberi nama “Stasiun” untuk pameran ini.
“Seorang teman perupa bertanya soal kegiatan kami dan ingin ikut. Mike Turusy langsung mengomentari ‘Tunggu di stasiun selanjutnya, kereta kali ini tak singgah lama.’ Nah, dari situlah kami mendapat inspirasi untuk menamakan kegiatan ini ‘Stasiun,” cerita Zam Kamil.
Pada Stasiun ke-4 dilaksanakan di rumah Haroen PM dan dihadiri oleh perupa senior, Dicky Tjandra, wartawan senior Goenawan Monoharto dan sejumlah pencinta karya seni lukis. Stasiun demi  Stasiun terus bergulir dan para perupa makin berani melakukan pameran outdoor yakni di Pantai Akarena pada Stasiun ke-6 yang didukung oleh Organisasi Selebassi dan kini sudah memasuki Stasiun ke-9 yang juga dilakukan secara outdoor di galeri dan halaman rumah Ahmad Rimba yang berlokasi di Gowa.
“Kami tidak menyangka pameran lukisan ‘Stasiun’ jadi begini. Sudah semakin banyak perupa yang ingin bergabung di Stasiun. Ini di luar rencana kami,” ungkap Zam Kamil yang diikuti anggukan setuju Budi Haryawan.  Kereta para perupa yang semakin banyak penumpangnya akan tetap terus singgah pada stasiun berikutnya setiap dua minggu dengan karya lukisan yang semakin maju dan bermutu. Menjelang Stasiun 10 yang akan diadakan pada Minggu, 13 April mendatang yang rencananya diadakan di Markas Organisasi Selebassi, sudah ada ratusan karya seni rupa lukis yang sudah ditelurkan para perupa selama Stasiun berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan