Index Labels

Kemauan Bapa Berbeda

. . Tidak ada komentar:
Aku ditelepon beberapa hari lalu olehnya. Awalnya hanya basa-basi menanyakan kabar dan kesehatanku. Setelah itu dia bertanya aku sedang apa.

"Ini baru mau pulang, bapa," jawabku saat itu yang kebetulan sedang melangkah menuju tempat parkir.

Ia lalu berkomentar panjang tentang pekerjaanku. Katanya pekerjaanku cukup berbahaya dan ia berusaha membujukku agar setelah kuliah nanti kembali ke Labuan Bajo dan bekerja di salah satu harian lokal di sana. Kutampik dengan nada sopan.

"Ruang lingkupnya kecil, bapa."

Ia tak mengelak. Perbincangan lewat telepon kamipun berlanjut. Ia kembali berkomentar tentang pekerjaan. Membandingkan wartawan koran dan tivi. Katanya, jika aku menjadi wartawan tivi, mereka bisa melihatku setiap hari saat menonton berita.

"Kalau di tivi, pasti cepat terkenal," tambahnya.

Aku kebingungan. Beliau memang benar. Jika aku menjadi reporter tivi, keluargaku di daerah sana bisa melihatku, membayangkan pekerjaanku dan sekaligus bisa melihat perkembanganku.

"Jadi wartawan koran lebih banyak didapat, bapa," jawabku lembut. Aku lalu meyakininya bahwa wartawan koran dan tivi tak ada bedanya. Bahkan kutambahkan bahwa wartawan koran memiliki pengetahuan lebih banyak karena lebih mendalam menghimpun informasi dibandingkan wartawan tivi. Ia ber'oh' seakan paham. Setelah itu, ia mengakhiri hubungan telepon.

Sepanjang perjalanan pulang, kemauannya kembali kupikirkan. Jika kuturuti, artinya aku akan jarang menulis. Aku juga tak pandai berbicara pada kamera, tampangkupun biasa saja.

Akh, mungkin karena bapa belum paham. Atau mungkin juga karena sering mendengar komentar orang.

Atau...

Mungkinkah bapa selalu membayangkan diriku seperti reporter tivi yang selalu ia tonton?

Salam Jumat Agung, Bapa... Happy Birthday for Fransiska Viviirani Bahali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan