Index Labels

Sastra: Murah Tak Mesti Dibuat Murahan

. . Tidak ada komentar:

Saya pernah mengintip beberapa blog, membaca berbagai sajak pada status di media sosial, seperti twitter, facebook, blackberry messanger dan sejenisnya. Di era yang serba cepat dan mudah ini, sangat mudah orang-orang menyalurkan karyanya yang bisa dinikmati dengan gampang dan gratis. Apalagi untuk karya sastra.

            Buku-buku sastra seperti kumpulan cerpen, kumpulan puisi dan novel bisa diperoleh dan dinikmati dengan biaya yang murah. Tak perlu merogoh kocek lebih dalam jika ingin mendapatkannya, tak seperti 
karya seni lainnya, misalnya seni rupa. Bahkan ada juga yang bisa diunduh langsung dan gratis dari internet.

            Tak hanya itu, untuk menjadi seorang penulis juga mudah, begitu juga jika ingin menerbitkan sebuah buku. Yang penting punya uang, tak peduli kualitas karyanya bagaimana, tak begitu detail meneliti apakah karya itu palsu hasil jiplakan atau memang karya si pengirim, buku tetap akan dicetak, diterbit, disalurkan kemudian dibaca orang. Mereka tak mencintai, memanfaatkannya untuk bisnis. Yang penting uang! Situasi 
dan kondisi yang sungguh membuat saya getir.
         
   Bagi mereka yang mencintainya, tak mudah untuk hasilkan sebait sajak yang sungguh lahir dari pikiran serta imajinasinya. Adakah pembaca tahu, betapa banyak waktu yang dihabiskan seorang Asdar Muis RMS. misalnya, hanya untuk menulis kolom Renung-Menung yang kemudian dibagikan secara bebas dan gratis di sosial media? Orang-orang membacanya, menikmati bahkan tersentuh oleh karya gratis itu. Atau seorang Nur Alim Djalil, yang bepergian jauh hingga ke Negeri Thailand kemudian menuliskan kisah tentang jejak-jejak orang Makassar di sana. Tulisan yang walau hanya dibubuhi pada selembar kertas A3 tapi memberikan banyak wawasan bagi pembacanya.
          
  Tapi kini, sastra seperti tidak dihargai lagi. Orang-orang menyalin karya orang lain tanpa membubuhi sumber dan penulis aslinya. Pembaca mana tahu? Dikira karya tersebut adalah miliknya. Pekerjaan kotor para plagiat yang sungguh membuat karya sastra bagai karya yang murahan. Adakah orang perlakukan sastra begitu karena betapa mudah dan murahnya mendapat sebuah buku Harry Potter yang tak sampai dua ratus ribu rupiah untuk harga tiap bukunya atau mendengarkan esai gratis pada panggung –panggung pertunjukan? Saya malah berpikir, bagusnya harga sebuah buku karya sastra disamakan dengan harga sebuah lukisan atau patung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan