Index Labels

Ternyata Aku Introvert

. . 4 komentar:

Beberapa hari ini aku mencari apa yang salah dengan diriku. Satu per satu teman-temanku bermasalah denganku. Kukira sebagian dari mereka salah paham, tapi kucoba koreksi diri, mungkin saja memang aku yang salah. Lalu, semalam secara kebetulan aku menemukan sebuah artikel di internet. Tentang manusia yang berkepribadian introvert, kukumpul referensi dan membaca sebanyak-banyaknya hingga subuh. Akhirnya kutemukan apa yang kucari selama ini tanpa harus bertemu seorang psikiater (sebelumnya aku ingin bertemu psikiater) atau teman curhat yang memahami.

Aku coba mengingat-ingat. Apa saja yang pernah kuperbuat. Aku pernah dimusuhi seorang teman karena mengabaikannya saat ia sedang bertanya tentang sesuatu. Setahuku saat itu ia tak pernah bertanya apa-apa, tapi ternyata memang tidak kudengar lantaran aku sedang fokus pada layar laptopku. Hal ini juga sering terjadi pada beberapa teman yang lain.

Aku selalu frustasi jika kebebasanku diikat. Tak heran jika pernah aku bertengkar hebat dengan kakak ke duaku pada semester tiga dulu, karena ia tak pernah memberiku ruang seorang diri sebab teman-temannya selalu datang dan aku merasa terganggu. Bukan karena kubenci teman-temannya atau dirinya, tapi kepalaku seperti hendak meledak jika pulang dengan rasa letih, lalu ingin sekali mengetik dan menulis sesuatu di meja belajarku tapi terlalu banyak orang di indekostku. Mukaku pasti langsung cemberut dan tak berminat untuk berbicara apapun, orang-orang pasti akan langsung merasa tak enak.

Masih tentang kebebasanku. Aku suka menjalin sebuah pertemanan yang baik, bahagia dan menikmati hal-hal yang seru bersama teman-teman. Tapi aku tidak bisa nyaman jika dikekang. Tak heran jika mukaku mulai berubah dan aku merasa tak nyaman jika teman-temanku berlama-lama di tempatku. Aku hanya perlu ruang dan waktu untuk sendiri. Tak suka dipatok atau diatur oleh siapapun tentang pergaulan dan sangat tertekan jika terpaksa harus mengikuti mereka. Makanya aku cenderung ingkar janji jika ingin bepergian dengan teman-teman, karena aku lebih suka melakukan segala hal sendiri tanpa perlu dihantui rasa terikat oleh seseorang.

Pada semester lima, pendapat buruk menyebar tentangku. Teman seangkatan menganggapku tak bisa diajak kerja sama dan tak mau mendengar pendapat orang lain. Yah, sulit bagiku jika mengerjakan sesuatu beramai-ramai. Kepalaku pusing dan mudah strees jika setumpuk pendapat berbeda masuk. Otakku sulit mengelola yang begitu. Makanya selalu kupilih mengerjakan tugas kelompok sendirian dan kubiarkan teman-teman kelompokku bersantai. Aku pasti akan menyelesaikannya walaupun harus begadang semalaman.

Banyak yang mencapku sombong dan tak berjiwa sosial. Tak heran jika akulah anak dari ayah dan ibuku yang paling tidak disukai banyak kerabat. Karena aku lebih memilih diam di rumah sepanjang hari ketimbang mengunjungi keluarga. Aku tak pandai berbasa-basi.

Selama ini aku cukup tertekan menghadapi masalah-masalah ini. Mengutuk diri karena melihat musuhku lebih banyak daripada temanku, kukira aku memang jahat. Tapi ternyata bukan karena itu, orang-orang hanya salah paham dan kuputuskan tetap pertahankan kepribadianku ini karena inilah yang memang membuatku nyaman.

Aku introvert, kepribadian yang memang cenderung memilih untuk sendirian. Aku dianggap egois karena orang-orang yang berkepribadian introvert cenderung berpikir ke hal subyektif atau diri sendiri. Aku tak perlu menunggu teman untuk melakukan sesuatu. Tak ada yang salah denganku karena ini memang bawaan. Meski banyak musuh dan sering dijauhkan tak masalah bagiku, masih banyak segelintir orang berkepribadian introvert yang memiliki masalah yang sama denganku. Termaksud J.K. Rowling, Bill Gates dan Albert Enstein.

Yah, kurasa aku sudah lega tanpa perlu mencari seorang psikiater lagi. :)

4 komentar:

  1. Menurutku sih enaknya seimbang, mbak. Ada waktu sendiri, ada waktu bersama. Sosialisasi dan kebersamaan di lingkungan itu juga termasuk aktualisasi bagi diri seorang manusia. Malah, kalo suka menulis, berarti kita seharusnya adalah tipe pendengar yg baik, peka terhadap apapun di sekitar kita, karena itulah yg akan menjadi sumber inspirasi tulisan kita nantinya.

    Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Bayu, terimakasih untuk komentarnya.

      Iya Bayu benar, dari beberapa referensi yang saya baca juga begitu, semua orang memiliki dua kepribadian ini dalam dirinya, hanya saja tetap salah satu tipe kepribadian menjadi yang dominan. Bayu benar tentang sosialisasi dan kebersamaan itu penting, orang-orang berkepribadian ini juga tak selamanya antisosial, mereka hanya cenderung ingin sendiri pada waktu tertentu dan tak nyaman bila terikat. (Pengalaman pribadi dan referensi). :)

      Hapus
  2. introvert , ...berkreasi atau asyik dengan kesendiriannya. bukan berarti menyepelekan semua unsur yang selalu melekat pada diri kita di hari-hari kita. tidak ada yang salah, dan tidak perlu dipersalahkan ini duniamu.....kita hargai, karena mungkin sedikit seperti menghargai privasimu. bercerita tentang introvert :) hampir sama dengan seseorang yang dulu pernah hadir dan mewarnai hati dan hidupku. tetapi karena kita punya privasi dan kebebasan masing-masing, akhirnya sekarang tidak pernah saling contak. awalnya kecewa tetapi ketika kita mempelajari seseorang dengan kepribadiannya dengan sabar, nantinya kita akan mengerti juga , meski RASA dan DIA,... bukan milik kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimaksih... :D
      siapa itu yang introvert jg? ehem... ehem

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan