Index Labels

Pray For Tivi Indonesia

. . 2 komentar:
Sumber gambar: Pixabay.com
Acara di televisi Indonesia makin bebas, makin lepas dan makin 'keras'. Entah karena tekanan bisnis yang semakin bersaing, atau justru karena pemahaman fungsi media sudah tidak dipedulikan lagi. Miris, ironi dan mengkhawatirkan. Masyarakat  sebagai target yang polos menerima begitu saja, meniru bahkan berpikir itu benar.

Misalnya saja, kebiasaan membully pada acara Fesbukers yang ditayangkan setiap hari di ANTV. Sapri yang dianggap paling, maaf, jelek harus menjadi tumbal untuk dihujani bedak pada jeda acara sebelum penayangan iklan. Selalu saja ada salah satu orang yang dijadikan target bully dengan tujuan membuat acara semakin menarik dan seru. Sayang...

Pernah juga sekali, sebuah acara musik dangdut yang disiarkan langsung oleh MNC TV menampilkan salah satu penyanyi vulgar Indonesia yakni Julia Peres. Di satu sesi, Jupe memberikan kesempatan pada penonton di panggung untuk mencium pipinya. Jupe saat itu ditayangkan secara langsung oleh media tersebut sampai tengkurap di sisi panggung agar penonton yang mau menciumnya bisa menjangkau pipinya.

Suatu waktu juga, persaingan antara acara YKS di Trans TV dan acara Fesbukers di ANTV memanas karena dianggap saling plagiat. YKS menyindir Fesbukers dengan membuat satu sesi yang berjudul "Reskuker" dengan meniru beberapa adegan pada acara Fesbukers. Bodoh jika masyarakat tak tahu bahwa sesuatu telah terjadi antara dua program acara dari televisi berbeda ini, apalagi sebelumnya ada iklan Fesbukers di ANTV yang dengan kentara memplesetkan adegan Sow Imah yang jelas-jelas merupakan salah satu pembawa acara di YKS. Jelas-jelas pembawa acara kedua program talk show itu adalah orang-orang yang sama. Lucu.

Beberapa kasus lain juga. Seperti salah satu berita pada saat kasus AQJ sedang buming, TV One menampilkan berita bahwa Ahmad Dani ayah dari AQJ menghambat kerja Pers karena menolak diwawancarai oleh jurnalis TV One. Padahal jelas-jelas Ahmad Dani punya hak tidak memberikan komentar, dan jelas-jelas juga di dalam Kode Etik Jurnalistik pasal 9 berbunyi 'Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik'.

Miris kan? Sebagian masyarakat Indonesia justru tak sadar. Menerima apa adanya dan meniru dengan sempurna. Tayangan dari televisi Indonesia tak aman lagi. Pelanggaran jam tayang sering terjadi dan sudah jauh dari fungsi utamanya sebagai media yang memberikan pendidikan yang layak dan tepat untuk masyarakat. 

2 komentar:

  1. setuju Vera. saya sampe geleng - geleng kepala. memilih untuk mengganti chanel berdoa juga untuk tidak menonton acara seperti itu supaya ratingnya turun. cuma masalahnya setiap saya ke rumahnya orang rata - rata yang mereka nonton yah Fesbuker dan YKS itu. mana durasi waktu acara itu minta ampun lamanya. waduh. kita hanya bisa memaksimalkan peran - peran kita. jangan sampai umur idealis seumur kita dikampus saja. ah.... semoga saya istiqomah dengan kata-kata. #buat Vera, saling mendukung yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak'Rima, sekarang banyak sekali pelanggaran di TV Indonesia, belum lagi soal presenter TV yg tdk paham tntang jurnalistik, terus penayangan acara yg kelewat batas. Soal YKS dan Fesbukers, lama2 itu bisa membudaya. :(

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan