Index Labels

Mahakarya Sastra dalam Teater Kapai-Kapai

. . 2 komentar:

 Panggung teater tampak gelap. Tiba-tiba cahaya kuning bersinar dari sisi kanan panggung. Aktor –aktor Teater Kapai-Kapai tengah berlutut berjejer membelakangi penonton. Tiba-tiba pelakon Emak berdiri menghadap penonton dan memulai dongengnya, “ Ketika prajurit-prajurit dengan tombak-tombaknya mengepung istana cahaya itu, sang Pangeran Rupawan menyelinap diantara pokok-pokok puspa, sementara air dalam kolam berkilau mengandung cahaya purnama.” Abu sang pangeran tampak serius memperhatikan dongeng Emak, ia mengawasi gerakan Emak sambil memeluk bantal putih. “Adapun sang Putri Jelita, dengan debaran jantung dalam dadanya yang baru tumbuh, melambaikan setangan sutranya dibalik tirai merjan, di jendela yang sedang mulai ditutup oleh dayang- dayangnya. Melentik air dari matanya bagai butir-butir mutiara.” Lanjut Emak
                “Dan sang Pangeran, Mak?” tanya Abu penuh semangat.
                “Dan Sang Pangeran, Nak? Duhai, seratus ujung tombak yang tajam berkilat membidik pada satu arah; purnama di angkasa berkerut wajahnya lantaran cemas, air kolam pun seketika membeku, segala bunga pucat lesi mengatupkan kelopaknya, dan...”



                “Dan sang Pangeran selamat, mak?” Abu bertanya lagi.
                “Selalu selamat. Selalu selamat.”
                “Dan bahagia dia, mak?”
                “Selalu bahagia. Selalu bahagia.”

Begitulah adegan pertama Teater Kapai-Kapai yang dibawakan Kala Teater. Teater dibuka oleh adegan Emak yang diperankan oleh Wahyu Nursanti dan Abu yang diperankan Ruzel. Dalam adegan tersebut para aktor melakonkan perannya dengan penuh penghayatan dan penguasaan panggung. Naskah Teater Kapai-Kapai ditulis oleh Arifin C. Noer yang merupakan salah satu penyair Indonesia (1942-1955).
Dalam naskah tersebut, bahasa sastra terlontar dengan indah didukung dengan kemampuan akting para aktor yang disutradarai oleh Shinta Febriani. Teater yang digelar di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie pada Selasa, 19 November 2013 lalu berhasil membuat para penonton terpukau. Bagaimana tidak, para aktor yakni Wahyu Nursanti (Emak), Ruzel (Abu), Adin Amiruddin (Yang Kelam), Nurhikmah (Iyem), Fadhli Amir (Bel), Awaluddin Arsyad (Kakek), Andi Fatima Azzahra (Bulan) dan Fransiskus Tupe Taka (Majikan) berhasil memainkan Teater Kapai-Kapai dengan total dan enerjik.
“Naskah Kapai-Kapai sangat puitis dan dibuat seperti dongeng yang berkisah tentang manusia yang hidup dalam kemiskinan,” ungkap Shinta Febriani saat ditemui beberapa waktu lalu. Kapai-Kapai menampilkan potret manusia (Abu) masa kini yang tertindas, tak mampu lepas dari kemiskinan. Dalam Kapai-Kapai, dikisahkan manusia yang tak tahan lagi hidup dalam pernderitaan sehingga mencari kebahagiaan dengan cara menghidupkan mimpi-mimpi. Manusia masa kini yang mendambakan kebahagiaan semu.
Kala teater memulai latihan teater Kapai-Kapai sejak pertengahan Juli tahun 2013. Pertunjukan tersebut dimainkan oleh aktor-aktor berprestasi, seperti Ruzel yang pernah terpilih sebagai Monologer Tebaik Festival Kala Monolog III pada tahun 2011 dan juga pernah memainkan sejumlah teater penting, diantaranya Waiting For Godot karya Samuel Beckett, Monolog Cermin karya Nano Riantiarno dan pernah berkolaborasi dengan performer asal Australia yakni Kelly Lee dan Anna Weekes. Begitu juga dengan Wahyu Nursanti yang telah terpilih sebagai Monologer Terbaik Festival Kala Monolog II tahun 2010 dan Nurhikmah peraih Monologis Terbaik dalam Lomba Cerita Rakyat Se-Sulawesi Selatan/Sulawesi Barat tahun 2007 dan Best Choreographer pada pertunjukan tari I Earn Qatar tahun 2012. Masing-masing aktor memiliki prestasi gemilang yang membanggakan.
Sebelumnya, Kala Teater juga pernah membawakan teater Kapai-Kapai di Solo dan pernah mementaskannya di beberapa kota di Indonesia. Untuk penampilannya di Makassar, setiap adegan tetap dimainkan dengan baik dan menarik. Seperti pada bagian ke dua adegan ke tujuh dengan judul adegan Rombongan Lenong, semua aktor tampil di panggung secara bersamaan dengan kostum seperti di kerajaan. Frans Tupe Taka yang berperan sebagai Raja Jin berusaha merayu Putri Cina yang diperankan Andi Fatimah Azzahra. Lontaran sajak vulgar yang dituturkan pada adegan ini begitu indah dan menarik, seperti puisi Raja Jin saat tengah merayu Putri Cina, “Lihatlah bulan di atas sahara dan bintang bertebar bagai pijar bara. Lihatlah daunan kurma melambai tanpa suara. Dan wahai jernih airnya tenang tak bertara. Itulah semua lambang aku punya gairah asmara. Kuadukan kini dendam nafsuku tanpa pura-pura. Dihadapanmu he Putri Cina bak Si Gahara.” Dalam adegan ini, para aktor lain mengawasi perdebatan Raja Jin dan Putri Cina, kemudian Ruzel berperan sebagai Pangeran membantu Putri Cina dari belenggu Raja Jin yang terus memaksa.
Adegan demi adegan bergulir dengan berbagai sajak dan lakon yang sempurna. Pada akhir kisah, Abu wafat dibunuh oleh tembakan pistol Emak. Kemudian jasad Abu digotong pergi hingga akhirnya lampu panggung padam. Teater Kapai-Kapai yang dibawakan Kala Teater berakhir dengan tepukan tangan meriah para penonton. 


*Sudah disunting

2 komentar:

  1. Terima kasih atas tulisannya. Koreksi sedikit. Yang membunuh Abu adalah emak. Dalam adegan itu saya tidak berperan sebagai bel, tetapi gelandangan. Meski adegannya saya memukul bantal itu adalah tanda suara pistol emak yang menembak kepala Abu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih untuk apresiasinya. Wah maaf, akan saya koreksi kembali. saya mengutip lurus adegan yang saya lihat. Makasih :)

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan