Index Labels

Yang Lucu adalah Ekspresinya

. . Tidak ada komentar:
Aku ingat liburan pertengahan tahun lalu. Sore-sore usai hujan, bapa ingin mandi air hangat karena beliau sedang demam. Ia mendatangiku dengan kain sarung songke yang menyelimuti sebagian tubuhnya, aku sedang duduk dekat tungku yang dibuatnya di halaman belakang.
"Vera, rebus air untuk bapa. Tidak usah sampai mendidih!Yang penting panas," perintahnya. Aku mengangguk cepat, takut menolak. Setelah ia masuk rumah, kuambil beberapa gayung air pada penampungan dan memasukkannya ke panci yang sudah kuletakan pada tungku yang menyala. Mama ikut bergabung denganku dan kami berbincang sambil menunggu airnya mendidih.

Beberapa menit kemudian, air dalam pancipun mendidih. Aku menyahut pada Bapa yang beberapa detik kemudian keluar tanpa kain songkenya lagi. Hanya celana pendek, memamerkan perut buncitnya yang lucu. Tangannya menggengam gayung berwarna merah.
"Sudah mendidih?" tanyanya tak sabar.
"Iya, bapa!" aku mengangkat panci panas dengan sekuat tenaga lalu memindahkannya pada tangan beliau. Bapa segera mengangkat air panasnya dan membawanya ke kamar mandi. Beberapa menit ia tiba-tiba berteriak,
"Veraaa... ini air tadi mendidih sekali kah?"
"Iya, bapa. Kenapa?" tanyaku bingung. Ia menjawabku dengan menggerutu kecil. Tak lama kulihat ia keluar dari kamar mandi, masih memegang gayung merahnya dan ember hitam ukuran sedang. Aku mengawasinya yang berjalan agak jengkel menuju tempat penampungan. Perutku geli, bapak menatapku heran, matanya melotot antara marah dan heran. "Kenapa?"
Kujawab dengan menggeleng cepat. Mungkinkah tadi bapa hampir mengguyur tubuhnya dengan air mendidih? Imajinasiku jalan dengan perasaan antara khawatir, takut dan geli. Duh, betapa berdosanya aku! Untung saja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan