Index Labels

Part 3, Papa.. Papa.. Bapaku (Ditulis pada Agustus 2013)

. . Tidak ada komentar:


Sekali lagi aku takjub pada pemikiran bapaku. Setelah keputusan pengunduran dirinya dari jabatan Kepala Bidang sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen pada sebuah instansi beberapa waktu lalu, ia juga tanpa ragu berhenti menjadi Pegawai Negeri Sipil dan mengambil pensiun dini. Aku berdecak dalam hati, tak punya kata-kata menggambarkan perasaanku tentang tindakan fatalnya yang tidak main-main itu. Bapa melepas jabatan menggiurkannya, melepas satu-satunya sumber mata pencaharian untuk kehidupan keluarga kami. Kini, ia hanya pengangguran tengah usia yang sibuk menghabiskan waktunya dengan kegemaran memancing ikan di laut. Aku sempat berpikir mungkin saja sesungguhnya talenta bapa adalah menjadi nelayan.

Tak ada yang berubah. Kepulanganku di liburan kali ini aku terkejut melihat rumah kami bertambah besar dan luas. Kuingat saat masih di tanah orang bapa meneleponku beberapa kali dan bercerita tentang rasa letih dan sakitnya karena beberapa hari membuat rumah yang hanya dibantu mama. Bapaku bukan seorang tukang atau mantan kuli bangunan, tapi saat kulihat hasil kerjanya kemarin, aku hanya bisa tersenyum bangga melihat hunian kami yang semakin nyaman dibuatnya. Rumahku bertambah luas, sungguh aku kewalahan dan letih setiap membersihkan semua ruangannya.

Dan siang kemarin, bapa membawaku ke tepi pantai di Kompleks Gorontalo-Labuan Bajo. Beliau menunjukan padaku pengerjaan kapal motor kami yang hendak diperbesar agar bisa menampung banyak penumpang. Persiapan Sail Komodo, katanya. Bapa ingin membangun bisnis travel walaupun pengerjaan kapal motor belum apa-apa. Ia juga mengoceh tentang beberapa rencananya. Aku mengangguk-angguk, segala keputusannya pasti baik.

Kekagumanku semakin besar di pagi ini. Bapa diam sepanjang pagi di teras rumah, ia hanya mengajakku bicara saat hendak meminta mencuci sepasang pakaiannya. Namun, saat seorang tamu singgah ia langsung menyampaikan semua pikirannya tentang rencana pernikahan kakak. Aku mencuri dengar, itukah yang ia pikirkan sepanjang diamnya pagi ini? Bapa inginkan pesta pernikahan yang sederhana dan apa adanya. Ia bersikukuh pada keinginannya yang tidak ingin memaksakan kemampuan isi kantongnya dan keluarga besar hanya untuk gengsi dan reputasi. Untuk apa memaksakan diri membuat pesta yang besar jika kemampuan dana tidak mencukupi? Yah kukira ia benar, sekali lagi beliau benar. Yang penting adalah pernikahan kakak berlangsung bahagia, bukan berlangsung mewah tapi malah membebani. Bukankah segala beban tak pernah membuat orang tersenyum dengan sungguh-sungguh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan