Index Labels

Panggung Nurani

. . Tidak ada komentar:
Dari sudut "Panggung Keterpurukan", aku tengah perhatikan, baju dungu masih kukenakan! Kulihat para lakon aktor itu tengah berdendang. Mereka
sibuk menertawakan, mengerumuni orang-orang yang ditinggikan. Minta diperhatikan, minta dikenalkan. Kucoba mendekat dengan seragam yang compang-camping, mencoba turut masuk dalam drama menggiurkan yang ternyata mengerikan. Aku didorong keluar, dikatai tak pantas dengan bully-bullyan sangar menyakitkan. Huah, mereka menakutkan.

Lalu aku menjauh, ibuku bilang aku salah memasuki panggung. Disuruh aku mencoba bicara pada Tuhan, kata-Nya cobalah dengar apa yang nurani katakan. Aku mendesah dan tercekat tertahan. Ayahku kembali bilang, "Tak perlu takut! Kukira kau gadis berani," aku terdiam. Kuraih seragam kebebasan, kulepas ikatan samar yang menyakitkan. Nuraniku menyuruhku jalan! Memulai langkah tanpa perlu dipaksakan. Hatiku bilang, apa yang nuraniku teriakan akan membahagiakan. Lalu kubertekad! Lupakan para pembenci yang membatasi ruang gerak, jauhi para penahan yang tak paham keinginan. Dan mulai berjalan sendirian. Nikmati segala kesukaaan. Tak ada paksaan, tak ada ikatan. Aku yang lahir dengan keinginan dan lakon yang dimaui nurani. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan