Index Labels

Bajuku Cakar

. . 2 komentar:
Rompi itu kusetrika kuat-kuat. "Sreet... sreeet.. sreet," pewangi dan pelicin juga kusemprot agar bisa kusetrika dengan mudah. Hmm.. harum. Aku tak sabar untuk segera mengenakannya, rompi berbahan jeans warna biru yang tampaknya akan sesuai dengan kaus putih yang agak longgar. Oh, iya.. aku ingat kupunya baju 'Salah Makassar Berbahasa' yang belum pernah kupakai. Masih baru. Wah, momen yang tepat. Aku akan menggunakan setelan sederhana nan keren ke kampus. Wow, aku keren, klasik dan asik. Pikirku!

Celana jeans dengan warna biru yang lebih terang dari rompinya kupadukan. Kupilih salah satu sepatu kets berwarna cokelat muda yang agak pudar dengan kaus kaki berwarna senada dengan sepatunya. Kukenakan semuanya dengan bangga. Mengucir rambutku ke belakang tanpa sehelaipun yang jatuh menyentuh tengkukku, jidatku yang katanya selalu memancarkan sinar yang menyilaukan kubiarkan terpampang tanpa ditutup helaian poni. Pokoknya penampilanku akan keren, nyaman dan gue banget. Lalu akupun berangkat dengan percaya diri sembari menyampirkan tas selempang hitam di pundak.

Nah, sampailah di kampus.

"Cie.. cie.. rompi Vera keren. Bagus.." aku semakin membusungkan dada, melangkah semakin percaya diri mendengar elu-eluan teman-teman yang menyambutku depan kampus. Tak lupa tinggalkan senyum termanis yang kupunya.Yah, aku keren! Mereka lalu mengikutiku menuju ruangan kelas.
"Ver, coba lihat rompinya! wiii... bagus!" sahut salah seorang temanku. Kubuka rompiku untuk membiarkannya mencoba. Ia lalu memakaikannya pada tubuhnya. Hmm.. menurutku tak cocok.
"Ini dibeli dimana?" tanyanya sambil menyodorku kembali rompiku.
"Cakar," jawabku singkat. Roman muka orang-orang yang ada dalam ruangan langsung berubah. Antara ekspresi kasihan dan jijik. Aku tersenyum,
"Sudah jujur saja. Pasti semua kita di sini punya pakaian yang dibeli di cakar," ujarku sambil mengenakan kembali rompi kebanggaanku. "Lagian, kalau orang keren yang pakai, cakar sekalipun pasti selalu keren dilihat," jawabku narsis dengan agak sinis. Aku benci tatapan aneh mereka. Mereka mengangguk-angguk, suasana jadi tak seriang tadi. Hanya karena bajuku cakar? Helooo...

Yah, semua yang kupakai memang barang murahan. Rompi cakar seharga Rp 15.000,-, jeans merek Logo palsu seharga Rp 75.000,-, sepatu kets yang kubeli hanya Rp 50.000,- dan kaus kaki warisan Bapaku. Hanya baju kaus yang tergolong mahal karena nilainya Rp 100.000,-, itupun masih mengutang pada dosenku.

Terus, mengapa jika begitu? Akankah semakin berkembang pikiran nilai seseorang dilihat dari harga dan merek barang yang dikenakannya? Akh, terserah! Yang jelas aku nyaman dan bangga saat mengenakannya.

2 komentar:

  1. hehe berani ngutang ma dosen juga ya kak,
    wah, pasti gaul nih
    :-) .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dosenku juga gaul... wkwkwk. Mau aja ngutangin mahasiswanya. hhe

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan