Index Labels

IA

. . Tidak ada komentar:
"Sini! Ada baju baru untukmu!" Ia membawaku ke kamar, memakaikan baju baru berwarna merah dengan dalaman kaos putih. "Untuk ke gereja! Jangan bilang-bilang dulu pada kakak-kakakmu," ujarnya lagi. Aku mengangguk, senang sekali kenakan baju baru. Waktu itu usiaku baru 5 tahun.
***
"Waktu itu janji mau kasih hadiah ulang tahun. Mana? Sudah lama lewat tanggal 8," Aku menuntut sembari menggosok-gosok mataku yang basah. Masih pagi, tubuhku sudah diselimuti baju seragam putih-merah. Ia duduk di kursi putih dengan lilitan kain songke.
"Ini!" uang Rp 1000,- disodorkannya padaku. "Jangan jajan sembarangan!"Pintahnya lagi. Aku mengambil uang dengan hati senang walau masih sesegukan.
***
"Masa angka 21 seperti angka 4 begini? Lihat, begini caranya menulis angka 4!" teriaknya lalu mengambil pulpen dan memeragakan cara menulis angka 4. Waktu itu sedang mati lampu, ia membantuku mengerjakan tugas matematika dari sekolah. Aku masih SD.
***
"Ini gitar tak bisa kusetel senarnya," sahutku, menggerutu sendiri. Ia tengah di ruang tamu melilit senar-senar untuk memancing, serius sekali.
"Bawa kesini!" sahutnya padaku, "Biar kusetel." Aku girang lalu bergegas bangkit dan beranjak dari kamar membawa gitar padanya.
***
"Pelan-pelan! Kalau di jalan menurun dan berbatu pakai gigi satu!" Ia berseru sambil menepuk pundak kananku. Aku menarik kopling lalu menginjak pedal gigi. Yap, gigi satu. Waktu itu aku tengah mengantarnya menuju pantai untuk memancing ikan, ia ingin menguji kemampuanku membawa sepeda motor berkopling. Jadi ia yang membonceng.

Makassar, 29 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan