Index Labels

Pelajari Budaya Orang!

. . Tidak ada komentar:

             Beberapa waktu lalu,
aku diundang dosenku untuk mencicipi masakannya. Aku mengiyakan dan berjanji akan membawakan beliau buah anggur yang dibeli di Indomaret, beliau memang sedang sakit. Segera aku berangkat bersama seorang teman yang kebetulan saat itu sedang bersamaku di warung kopi untuk mencari referensi tugas menjelang ujian final. Kami berhenti di POM Bensin untuk mengisi bahan bakar, harus mengantri karena saat itu banyak sekali kendaraan yang juga ikut mengisi. Setelah itu kami bergegas, kulirik dompetku, masih ada beberapa lembar uang lima ribuan. Yah, mudah-mudahan cukup untuk membeli anggur kualitas baik untuk dosenku, kalaupun kurang aku akan singgah di gerai ATM, kebetulan baru saja mendapat kiriman bonus dari kampung.
                Jalanan macet. Aku agak panik saat membuka facebook dan dosenku mengirim pesan,
“Cepatlah, soalnya aku akan kedatangan banyak tamu,”. Segera kusentil temanku, menyahut padanya agar mempercepat laju kendaraannya. Si bapak memang tak suka jika terlambat, aku sudah sering dimarah karena tak tepat waktu saat mengikuti kuliahnya.
“Nanti beli anggur di Indomaret dekat rumahnya pak saja yah,” teriakku, dia mengangguk-angguk. Sepeda motor melaju semakin cepat. Kami tiba di Indomaret dekat kompleks rumah dosenku, Indomaret terakhir . Aku langsung berlari masuk, untung ada jual buah, tapi anggur tak ada. Duh, aku panik dan kebingungan. Mau kembali ke tempat lain, kami sudah sangat terlambat. Dilema, kuajak temanku langsung ke rumahnya tanpa membawa apa-apa. “Setidaknya tunjuk muka dulu di rumahnya, nanti kalau bapak menuntut oleh-olehnya, kita balik lagi untuk membeli,” ujarku.
                Kami tiba, rumah tampak sepi. Aku melontarkan salam sambil mendorong pintu rumah, ternyata dosenku sedang mengetik di mejanya yang seperti biasa. Bapak berbalik memandang kami, mungkin sadar kami tak membawa apa-apa, ia diam saja lalu kembali fokus pada notebooknya. Aku duduk dengan salah tingkah, kebingungan.
                “Mana buahmu?” tanyanya sambil memandangku.
                “Maaf pak, di Indomaret buah anggurnya habis,” jawabku seadanya, “Bapak mau makan apel yah? Supaya kami balik lagi untuk beli,” tawarku. Beliau tak menjawab, aku jadi tak enak. Beberapa menit kami membisu dalam ruang tengahnya. Bapak lalu menyuruh kami langsung ke dapur untuk makan. Kami bergeming, kukode temanku untuk bangkit, ia malah sibuk dengan gadgetnya. Aku kesal. Kucoba cairkan suasana dengan bertanya apakah besok bapak akan mengajar, beliau tak menjawab, aku semakin tak enak. Sepertinya beliau benar-benar sedang marah. Otakku berputar, sepertinya salah kami banyak. Terlambat, tak bawa anggur dan mengganggu bapak yang tengah sibuk mengetik, selain itu beliau juga sedang sakit. Akh, mungkinkah sebaiknya kami pulang? Bukankah orang salah memang tak perlu dikasih makan? Aku bergumul dalam pikiranku. Sangat tak enak, sejenak kupikir aku seperti pembual, mempermainkan dosenku yang sudah berniat baik mengundangku makan tapi mengingkari janji dengan tidak membawakannya buah anggur. Aku mendesah lalu menggumam,
                “pak... kami pulang yah!” suaraku agak lirih karena takut. Pak dosen memandangku, mengangguk.
                “Iya pulang!” jawabnya, aku baru akan bangkit dari kursi saat tiba-tiba bapak bicara dengan keras,
                “Dan kau tidak boleh injak rumah ini lagi Vera!!! Ini yang terakhir,” rasanya jantungku berhenti berdetak, seluruh darahku berkumpul di kaki. Aku tersentak.
                “Kau tau tidak, budaya orang Bugis sangat tidak baik jika kau menolak makanan yang mereka tawarkan. Kau itu menghina!” aku syok, bingung dan takut. Mata pak dosen mengilat-ngilat marah. Ia melanjutkan amarahnya, menerangkan padaku tentang budaya Bugis yang memang tidak kutahu. Aku orang luar, jadi tak paham. Beberapa kali kubilang “Maaf!” beliau tetap marah. Malah melarangku menyentuh makanannya, mataku panas tapi kucegah diriku menangis. Temanku malah cengengesan memandang wajahku yang ketakutan. Amarah bapak mereda, kukode temanku lagi, membisikinya untuk bangun dan menuju meja makan. Kami bangkit dan melangkah menuju meja makan dan segera mengasup masakan beliau. Lidahku kelu dan kukunyah sesendok nasi daun pandan buatan beliau dengan susah payah, makan dengan takut-takut. Sedikit lega saat tiba-tiba ia menyahut pada istrinya, menyuruh menambah nasi pandan pada tempat nasi. Ibu membawakan kami sepiring ikan goreng dan nasi pandang, tak lupa ibu tersenyum padaku. Rasa takutku agak hilang.
                Selesai makan, aku bergegas mengembalikan semua tempat ke meja makan lalu mencuci piring dan gelas yang tadi kupakai. Temanku yang satu malah menertawaiku yang masih terlihat takut, “Beritahu aku tentang adat Bugis!”pintahku dengan berbisik, ia malah cekikikan. Kami kemudian kembali ke meja tengah. Pak Dosen masih mengetik. Tak lama ia bangkit dari kursinya dengan susah payah kemudian istirahat di kamarnya. Kami pamit pulang pada ibu.
                Sepanjang perjalanan pulang, aku mebisu. Kepikiran dengan marah pak dosen. Bagaimana caraku meminta maaf? Seriuskah saat beliau bilang aku tak boleh menginjak rumahnya lagi? Ah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan