Index Labels

PENUNGGU DI UJUNG PULAU, Dimuat Di Harian Fajar Edisi 15 Juni 2013

. . 6 komentar:

Angin berhembus sepoi-sepoi, rambutku yang lepas dari pita rambut ikut bergoyang-goyang seirama angin yang meniup mukaku. Kapal Feri tertambat di pinggiran dermaga, laut biru makin elok dan sedap dipandang mata. Aku bersandar pada tiang di pinggir kapal, kekasihku bergeming di sampingku sembari memandang lautan yang tidak bergelombang. Sinar matahari yang memantul ke wajahnya membuatnya terlihat cerah, peluh-peluh menetes di bagian dahi dan pelipis.
“Apa yang akan kau lakukan padaku?”tanyanya seperti menggumam. Aku mendengus lalu berbalik untuk menatap matanya, ia membalas tatapanku dengan lembut.
“Kau akan tetap disini!” ujarku seraya mengacungkan jari telunjukku di dada kiri. Ia mendesah, melempar pandangannya pada lautan yang luas.
“Apa kau yakin? Akan lama sekali kita tidak bertemu. Ada begitu banyak yang bisa saja terjadi selama dua tahun.”
Aku membisu. Kualihkan lagi pandangan ke kapal-kapal kecil yang bergoyang pelan oleh gelombang. Hatiku serasa teriris, perpisahan ini benar-benar bikin sakit. Suasana diantara kami berdua sekejap hening, aku hanya bisa mendengar dengan samar suara nafasku yang bertukar di tenggorokan.
“Aku khawatir dan gelisah,” sejenak ia menjeda, kami saling tatap dalam. “Mungkinkah aku akan kau lupakan?” Aku menggeleng, dadaku serasa berkecamuk. Mengapa dia begitu takut dan berkata seperti itu.
“Apakah kau hendak memintaku untuk tinggal?” suaraku mengemosi. Ia menggeleng lalu menyentuh pundakku. Kepala kutengkuk, mataku hangat. Sedetik kemudian air mataku tumpah. Tanpa banyak bicara ia menarik tubuhku lalu merengkuhku dengan erat.
“Jangan menangis! Tolong... jangan! Aku tak tahan!” bisiknya lirih. Masih sesegukan, kulepas pelukannya dengan pelan lalu memandang matanya lagi.
“Kau tahukan betapa aku sangat menyayangimu? Akupun tahu betapa dirimu juga sangat mengasihiku. Jadi kumohon, tepislah keraguanmu itu. Aku bersungguh-sungguh.” Serentak hening lagi, kulihat pandangannya berubah, ia mundur selangkah dengan ekspresi bersalah.
“Maaf...”
Ia menatapku tanpa fokus, kugeleng-gelengkan kepala, tak ingin membiarkan dirinya merasa bersalah. Air mataku tumpah lagi. Darah di jantungku serasa berdesir, perpisahan memang akan meninggalkan tangis. Ia kembali mendekatiku, menarik kepalaku ke dadanya. Sejenak kami diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
“Aku ikhlas kamu pergi kok. Tak ada maksud menahan ataupun melarang. Hanya saja...” ia menggantung kata-katanya, aku mendongak memandang wajahnya yang tampak menerawang diam.
“Kenapa?”
Nafasnya berhembus meniup wajahku dengan hangat, ia tersenyum lalu mempererat pelukannya.
“Takutnya kau direbut orang,” aku tertawa, iapun ikut tertawa.
“Oh yah? Hehehe... Adakah yang lebih baik darimu? Jika ada pasti aku mau,” godaku.
“Hey... Jangan membuatku gelisah dan khawatir lagi!” matanya melotot, kubalas dengan cengengesan sembari membebaskan diri dari rengkuhannya. Ia masih tertawa, matanya kini kembali ke lautan biru yang jauh, menembus pada ufuk yang tak jelas ujungnya, melewati pulau-pulau kecil yang samar. Aku akan mengarungi lautan itu untuk pendidikanku, dan dia tetap tinggal. Maukah dia menunggu?
Matahari pelan berpindah, naungan kami tak teduh lagi. Teriknya menusuk wajahku, sejenak kami larut dalam keheningan, tak peduli pada cahaya sinar matahari yang seperti membakar. Dia diam, kuperhatikan wajahnya tampak tenang dengan pikirannya yang entah apa. Aku merenung sesaat, kubiarkan mataku puas memandang garis-garis di wajahnya, mengarah pada matanya yang sayu, hidungnya yang tirus dan bibirnya yang lembut. Bentuk dagunya paling kusuka, menggantung bagai kerucut tumpul yang halus. Mataku berpindah pada alis tebalnya yang melengkung rapih, alisnya lebih indah dari alisku, rambut hitamnya yang ikalpun terlihat berkilau disirami cahaya matahari. Seperti biasa, jantungku berdegup kencang jika telah memperhatikannya. Dia menoleh padaku, tersenyum menggoda.
“Apa yang kau perhatikan?”
“Ah tidak! Aku hanya sedang mencoba menguji hatiku. Benarkah kau kusayang?”
“Apa jawaban hatimu?” Tatapannya menuntut.
“Jantungku yang jawab.”
“Oh yah?” Ia semakin penasaran, kuulas senyum.
“Jantungku bilang, ‘Bisakah kuberdalih lagi jika hanya menatap wajahmu saja jantungku sampai berdegup tak karuan?’. Kau selalu membuatku jatuh cinta.” Dia langsung tertawa, keras sekali. Aku mengerut kening bingung.
“Pandaimu mengambil hati,” sahutnya di sela tawa.
“Hey, aku berkata yang sebenarnya. Itu bukan gombal, itu adalah ungkapan cinta dengan gaya sastra!” kini aku ikut tertawa.
“Yah sudah, kau harus segera kembali ke bilik kapal!” ia menarik tanganku, menggotongku menuju bilik kapal yang ramai. Kami melangkah pada tempatku tadi menyimpan barang. Kapal akan berangkat setengah jam lagi. Ia langsung memeriksa barang-barangku, memperbaiki letaknya dan memeriksa kembali kursi yang akan kutempati sampai Makassar.
“Dar..” aku menggumam namanya, ia langsung menoleh padaku.
“Ada apa?” Kudorong tubuhku agar lebih dekat padanya.
“Tunggu aku yah!” bisikku, dia tersenyum.
“Sepertinya kegelisahannku tadi telah berpindah padamu,” ia menggodaku sambil tersenyum nakal, kutinju pundaknya pelan.
“Jawablah dengan serius!” pintahku berpura-pura marah. Ia mendesah, mengangkat pundak lalu memandang mataku dengan sungguh-sungguh.
“Aku menunggu. Itu pasti. Dua tahun itu tidak lama.” Mulutku terkatup, kuangguk-angguk kepalaku tanda mengerti. Ia tersenyum lagi lalu merangkulku.
“Makanya kau harus belajar dengan sungguh-sungguh supaya cepat selesai!” suaranya riang, aku tertawa.
“Tenang saja! Aku pasti giat dan tekun kok,
“Bagus!” jari jempolnya teracung padaku.
“Ehmm... bisakah kau lepas rangkulanmu sekarang? Aku risih pada tatapan orang-orang. Tak baik pacaran dalam bilik kapal,” aku berbisik padanya sambil cekikikan, ia bergegas melepas rangkulannya.
“Yah sudah, bersiap-siaplah berangkat!” aku mengangguk.

***
Bel kapal Feri telah berdengung tiga kali. Aku berdiri di beranda samping kapal, merasakan kapal yang pelan-pelan bergerak. Tambatnya dilepas dari dermaga. Dar masih berdiri di sudut dermaga, bersandar pada tiang dan memandangku dari kejauhan. Aku tersenyum padanya lalu  melambaikan tangan, ia membalas lambaianku. Aku tak berpindah saat kapal benar-benar telah jalan, mataku tak lepas dari sosok Dar yang mengecil. Kota kelahirankupun juga mengecil. Kapal menjauh dan akhirnya pandanganku terhalang oleh pulau. Sampai jumpa kekasihku.

The end

6 komentar:

  1. Sepertinya ini pengalaman pribadi ya?, hehehe..

    smoga cintanya tetep sampai pulang belajar.. sahh... hehe
    tapi gambarnya bukan kapal fery tapi perahu nelayan.. xixxix

    BalasHapus
  2. hahahaha... iya dong. tpi lebih bnyak fiksinya. :)
    amiiiin.... aku tak punya foto kapal feri. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. oo...fiksinya lebih kuat..., kayak sinetron dong..heheh
      kalau ngak ada kapal fery nanti kita minta uang di sby untuk beli, hehehee

      Hapus
  3. hhahahahaha... namanya juga cerpen bang.
    iya iya, tapi aku kumpul uang dulu yah? kira2 brapa harga kapal feri?? ghehehe

    BalasHapus
  4. bagus ew...suka dengan tulisan yang ini

    BalasHapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan