Index Labels

Aku Menyesal (By: Almaliky)

. . Tidak ada komentar:
Selasa,28 mei -- Kupandang rumah tinggi berwarna putih dengan cat yang masih terlihat baru. Ya itu rumah kakekku, sesekali saya menerawang jauh, jaman dimana saya kanak-kanak, dengan kolam ikan yang patungnya berbentuk anak lelaki yang sedang buang air kecil, Lucu kan.

Rumah yang dulu sering aku tempati menjadi anak yang nakal, pembohong, pencuri serta transisi buruk yang biasanya dilakukan anak lelaki lebih tepatnya. Tak menutup kemungkinan biasanya wanita juga sering seperti itu.

Tepat di penanjakan jalan Hj Athirah Raya ini, ada sebuah pohon durian yang ditanam kakek ku dulu, pohon ini sekarang jadi buah bibir para tetangga karena keajaibannya tumbuh di tanah Makassar seperti sekarang. Rumputnya hijau serta dua ekor ayam yang senantiasa mengiringi lamunanku di tengah malam buta.

Sepeninggal kakek ku, suasana rumah ini berubah, tampak terlihat luar begitu elegan. Tapi buatku sama sekali tidak, semua klise. Rumah yang dulu lebih berarti buatku, karena beberapa keluarga berkumpul bersama canda tawanya, serta lantunan ayat suci Al-Qur'an yang biasa terdengar lembut dari mulut kakekku.

tanpa berpikir panjang saya menceritakan hal ini kepada temanku, kebetulan ia datang tepat pas aku ingin membuka gembok pagar yang terjeruji,  maklum lah suasana kota Makassar saat ini memaksa untuk berbuat seperti itu. Mungkin itu salah satu alasan saya mencintai rumahku yang dulu.

Tak lama kemudian aku masuk dan membuat kopi untuk menemani malam berdua kami. Ia bertanya kepadaku kala itu, " Kenapa, memang kenapa? Rumahmu elok suasananya sejuk serta semilir angin malam yang begitu membuat hati ini tentram " ujarku.

memang kala itu angin membuat kopiku nyaris tak bermakna, tapi kujelaskan dengan seksama kalau itu tak seperti pandangannya, aku ingin suasana seperti dulu.

" Sekiranya kau bahagia atas kepergian beliau, tak ada lagi sumpah serapah yang pekikkan telingamu, tak ada lagi kekerasan yang menimpa hidupmu, " maklum temanku sangat tahu kehidupan masa laluku.

Aku berujar bahwa tuhan itu adil " Tapi pernahkah kamu rasakan pengorbanan nya terhadapku begitu besar? Dari bayi hingga sekarang aku di didiknya, aku menyesal tak menjaga beliau di waktu perjalanan berkunjung ke tempat terakhirnya " saat itu temanku menelan ludah, kulihat mukanya memerah sambil memperhatikan daun mangga yang jatuh.

Aku coba mengingat masa lalu ku lagi, tak hanya itu, aku pernah diludahi beliau ketika marah kepadaku, pernah ditendang kita aku mempermainkan sholat, pernah di cocol lombok biji ketika aku berbohong, dan yang paling perih ketika aku di juluki sebagai anak yang tidak tahu diri, cuman bisa bersenang-senang tanpa memikirkan kondisi keuangan orang tua ku.

Beliau memang dulu memeliharaku sejak bayi, karena melihat orang tua ku yang kerja pas-pasan, mungkin cocok pesannya untuk menyuruhku tawaddhu atau rendah diri dihadapan orang banyak, pelajaran ini mengiringiku hingga aku seperti sekarang.

Ayah ku seorang buruh bangunan yang bisa dibilang gajinya 65 ribu per minggu, kala itu ketika ayahku masih hidup. Ayahku meninggal sejak umurku 13 tahun lalu, ibuku sendiri jadi tukang cuci keliling demi menghidupi saudara-saudaraku sampai saat ini ia berubah haluan menjadi pedagang kue kecil-kecilan.

Tak sampai disitu, aku kadang berpikir aku anak orang kaya, karena dipelihara oleh orang yang terbilang mampu, ternyata aku salah. Itu hanya membuatku mendapatkan cacian yang begitu perih dari kakekku sendiri, tak hanya cacian juga pengusiran dulunya ia lakukan karena aku lebih mementingkan pacarku daripada menjaganya dirumah sakit.

Sebagian besar aku dibenci keluargaku, karena aku bertingkah seperti anak orang kaya yang nyatanya aku anak orang kurang mampu.

Disini aku belajar bahwa beliau berharga dan amarahnya itu positiv, tapi kenapa sadarnya sekarang? Apakah aku tidak pantas berdandan seperti teman-temanku yang lain? Pertanyaan ini sampai sekarang belum terjawab .

Dan kini aku sekarang tumbuh besar dan bekerja di salah satu perusahaan terbaik yang ada di Makassar, tak hanya itu program sarjana ku juga hampir selesai, mungkin kalau kakekku hidup beliau akan bangga dengan predikatku sekarang

Akupun tersadar dan menjelaskan pada temanku " Aku rela beliau rajam, rela di caci, rela teteskan air mata menahan kata-kata cibiran yang di lontarkan, aku diajarnya sabar, ". Aku ingat ketika selesai ia men dzalimi diriku, aku langsung dibekapnya, dielusnya rambutku sambil berkata " aku sayang kamu seperti Anakku, " seraya termenung aku menahan air mataku.

Satu hal yang membuat aku sampai sedih, bukan karena ia meninggal, tetapi waktu ia berpesan kepada ibu dari bapakku " kenapa ia sekarang tak pernah memperhatikanku, aku sudah mendekati ajal, begini ia membalasku? Kusekolahkan dirinya tapi ini balasannya?, " aku tak sadar akhirnya air mataku tumpah didepan temanku.

sementara pipi temanku masih memerah kujelaskan ia perlahan, tuhan tahu aku durhaka, bahkan tuhan tau cara ampuh untuk membuat hariku menjadi penyesalan di setiap waktu.

Kutelan ludahku kuhembuskan perlahan nafasku dan kusruput kopiku, ujarku kepadanya " detik ini saya suka dan rindu di Dzalimi beliau daripada saya harus membiarkan beliau tersenyum lepas di pembaringannya, "  Aku menyesal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan