Index Labels

Journal, 24 April 2013 “Jokka”

. . Tidak ada komentar:



                Hari ini, usai mengikuti kuliah di kampus, aku bersama Eviana Wulandari mengunjungi Makam Raja-Raja Tallo yang terletak di Kecamatan Tallo tepatnya di Jalan Sultan Abdullah. Kami mengunjungi tempat tersebut untuk membuat tulisan feature sebagai ujian MID dari mata kuliah Penulisan Feature yang dibawakan oleh Nur Alim Djalil. Kebetulan aku mendapat tugas meliput tempat tersebut.
                Sekitar pukul 15:00, setelah menyantap nasi goreng di sebuah warung kecil di Jalan Sabutung, kami langsung menuju lokasi makam. Kami menempuh perjalanan sekitar lima belas menit untuk sampai ke lokasi. Semula aku dan Evi berpikir, letak salah satu situs sejarah Makassar tersebut pasti di tengah hutan yang jauh dari keramaian, ternyata dugaan kami keliru. Kami mendapati tempatnya di tengah pemukiman warga. Letaknya strategis dan tidak sulit dijangkau oleh kendaraan.
                Setelah memarkir sepeda motor di halaman depan makam, aku dan Evi disapa seorang petugas yang menjaga makam. Kami berbincang-bincang sebentar dengan beliau (tidak sempat menanyakan namanya), dan ia lalu mempersilahkan kami untuk masuk ke kompleks makam tanpa karcis. Gratis.
                Aku terkesima melihat kuburan-kuburan kuno yang masih terlihat kokoh. Ada sekitar 80 makam yang terdapat di tempat tersebut. Tidak ada kesan angker seperti yang tadi kubayangkan selama di perjalanan. Tempatnya bersih, asri dan klasik, ada juga penduduk dan anak-anak kecil yang berada di sekitar makam.  Aku dan Evi langsung bergegas mendekati makam lalu melihat satu per satu kuburan, mulai dari yang ukurannya paling kecil sampai ke yang paling besar dan tinggi. Kusempatkan juga untuk membaca satu persatu papan nama yang terdapat di dekat makam.
                Hampir satu jam kami berkeliling di kompleks makam dan memotret tempatnya. Istirahat sejenak, kemudian aku mendekati tiga pria yang tengah berbaring di salah satu baruga kecil. Kukira mereka juga penjaga makam, jadi bisa kutanya-tanya sebagai bahan referensi tulisanku. Namun sayang, si petugas tidak bisa memberiku informasi karena dia tidak begitu tahu tentang seluk-beluk dan sejarah makam, dia mengaku masih pegawai baru di tepat tersebut. Kami lalu pamit dengan membawa sedikit informasi.
                Sesuai rencana awal, lepas dari Makam Raja-Raja Tallo, kami menuju Trans Studio. Evi mendapat tugas meliput tempat tersebut untuk featurenya. Kami lalu berkeliling-keliling, memasuki Mall yang megah tersebut sampai ke lantai yang paling atas. Kusempatkan waktu untuk mengunjungi stand perlengkapan computer untuk mencari Keyboard eksternal untuk notebookku. Pencarianku nihil.
                Evi dan Aku juga menggunakan kesempatan tersebut untuk foto-foto, dan saat matahari telah menyentuh bibir pantai di ufuk barat, kami memutuskan untuk meninggalkan Trans Studio. Tapi perjalanan kami tidak sampai disitu. Dari Trans Studio kami langsung menuju warkop yang terletak di Jalan Abdullah Daeng Sirua. Tujuannya untuk mencari bahan tulisan kami nanti, sekedar untuk menambah data tulisan yang sudah kami kumpul di lokasi. Pukul 21:00, kami memutuskan pulang dengan keadaan yang benar-benar lelah. Punggungku sakit, betisku pegal dan rasanya aku benar-benar ingin buang air kecil. Saat tiba di kos, aku langsung membanting tubuh di kasur dan beristirahat sebentar, “Nyaman na… “.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan