Index Labels

Gara-Gara Kopi Hitam

. . 1 komentar:
Semalaman aku tidak bisa tidur. Efek kopi hitam yang kuminum malam tadi benar-benar membuat kantukku hilang, padahal kemarin seharian juga aku tidak sempat tidur. Sial benar.
Aku menghabiskan satu malam dengan berbuat tidak jelas; menulis puisi tapi tidak selesai, menata rambut asal-asalan sambil berbicara dengan cermin, aku pikir aku cantik. Ih.... kepedean. hehe

Habis kerjaan aku berbaring, untungnya handphoneku bisa jadi TV. Kucari saluran TV dengan program menarik, tidak ada. Aku mulai frustasi, belum bisa tidur juga. Kemudian aku bergerak-gerak gelisah di kasur, rasa dingin yang menyerang tubuhku membuatku beranjak bangun dan meraih sweater dari gantungan, kurapatkan selimut. Tetap, susah sekali mataku terpejam. Ayam mulai berkokok menyahut dari kejauhan. Aku mencoba menghayal. Tiga orang berputar-putar di kapalaku, bergantian memasuki alam pikiranku. Mereka adalah pacarku (nun jauh disana), secret admirerku (ini mah' iseng) dan mantanku yang paling kubenci (grrrr....). Memori-memori tentang mereka menari-nari di kepala, sampai beberapa jam otakku berpikir. Hal itu malah membuatku semakin susah tidur, rasanya aku ingin mengamuk pada kopi hitam, ihh...

Hampir pukul 06:00 kantukku datang, mataku mulai sayu dan pikiranku kosong. Belum beberapa menit aku masuk ke zona tidur, Ivon menyahut-nyahut dari depan pintu kamarku, pintuku diketuk berulang-ulang. Aku tersentak bangun, tubuhku langsung gemetar, kesal minta ampun. Sahutan Ivon tidak kugubris, Ia berlalu dan aku mencoba tidur lagi. Tampaknya aku tertidur setengah jam lebih saat tiba-tiba pintuku diketuk lagi, Rendi memanggil-manggil namaku, aku curiga ia hendak mengambil kopi hitam dan gula yang masih disimpan di kamarku semalam. Kupaksa bangun dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, kepalaku pusing bukan main. Setelah mengembalikan toples kopi dan gula milik Rendi, aku mengunci pintu kamar dengan agak kesal dan kembali tidur. Sebelum tertidur, aku berharap tidak akan ada yang datang mengusik tidurku lagi. Mudah-mudahan.

Akupun terbawa mimpi, tidak kuingat lagi apa yang aku mimpi. Nyenyakku tidak lama, handphoneku tiba-tiba berdering kencang, aku mencari-cari dengan tangan kiri tanpa membuka mata. Saat berhasil kuraih, kupicingkn mata melirik layar Handphone, ternyata Bapa yang telepon. Kujawab dengan setengah sadar, Bapa berbicara cepat, aku mendengarnya dan menangkap inti pembicaraannya. Masih konsentrasi mendengar ocehan Bapa, pintuku diketuk lagi, kali ini lebih keras dan sampai berulang kali. Amarahku naik, sepertinya darahku mendidih. Dalam hati aku berpikir akan mengganti pintuku dengan pintu baja, supaya semakin keras orang mengetuk pintu kamarku, maka semakin besar resiko tangannya akan lebam dan terluka. Aku menggerutu dalam hati, tidak berani keluar suara karena Bapa masih mengoceh dari seberang. Kupaksa tubuhku bangun dari kasur lalu membuka pintu, seandainya tiba-tiba aku kesurupan, sudah kuangkat Kak'Iwa dan membuangnya di kanal depan. Dia hanya mampir sebentar untuk membahas uang lampu yang telah ditagih Ibu Kos, aku mendengar dengan tidak peduli, mataku malas terbuka lebar. Kesal, kesal, kesaaaaaaaaaal sekali. Paling benci jika tidurku diganggu.

Tidurku tidak sampai dua jam, aku menggerutu dalam hati tidak karuan, otakku mulai berpikir dan mencari ide agar tidak akan ada lagi yang mengganggu tidurku. Benci sekali, ingin marahpun susah! Kutatap mukaku di cermin, pucat pasi dan lesu. Aku ingin tidur lagi, mudah-mudahan setelah ini tidak akan ada yang mengetuk pintuku lagi. ^_____^

Makassar, 20 Februari 2013

1 komentar:

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan