Index Labels

Part 2 Goresan Papa… Papa… Bapakku

. . Tidak ada komentar:

Sepintas aku ingat tentang masa kecilku, samar-samar memang. Mama sering bercerita tentang bagaimana sulitnya mereka membesarkanku. Daya tahan tubuhku lemah dan sering sekali sakit, berat badankupun tidak pernah berubah. Kurus, kering dan selalu pucat. Saat aku keluar dari rahim mamapun, aku keluar dengan timbangan yang ringan. Mama bilang, aku satu-satunya anaknya yang terlahir kurus dan paling mudah. Aku mensyukuri hal tersebut karena saat aku keluar dari rahim mama, aku tidak begitu membuatnya kesakitan dan kesulitan. Mamapun mengenang masa-masa usai kelahiranku, ada yang katakan pada mama bahwa jika seorang bayi keluar dengan timbangan yang sangat ringan, kelak dia akan menjadi anak yang bodoh dan agak idiot. Mama menggambarkan kekhawatirannya saat itu.

Aku ingin sekali tau bagaimana respon Bapa saat aku hadir di tengah mereka. Mama tidak pernah cerita, Bapapun tidak pernah kutanya, sebenarnya aku tidak begitu berani untuk bertanya pada beliau. Mama pernah  bilang mereka mendambakan anak laki-laki sejak kakak tertuaku masih di dalam kandungan, tapi sayangnya tiga kali berturut-turut mereka dikaruniai anak perempuan. Kehendak Tuhan memang tidak bisa dibantah dengan sebesar apapun harapan dan keinginan manusia. Mungkinkah Bapa dan Mama kecewa saat akupun lahir, jenis kelaminku bukan laki-laki? Aku penasaran dengan reaksi mereka, khususnya Bapa. Apakah bapa dan mama bahagia saat aku datang dengan tangisan kerasku yang mungil dulu? Apakah mereka tersenyum bahagia saat merengkuhku yang masih berbau darah Mama? Sayangnya, kamera sangat langka di masa kelahiranku, jadi tidak kutau bagaimana rupaku saat masih bayi dulu dan bagaimana ekspresi Bapa dan Mama saat kedatanganku. Akupun tumbuh.

Dari yang aku ingat, dulu saat masih kecil aku sangat dekat dengan Bapa. Bapa selalu membawaku kemana-mana, bahkan jika keluar kota. Akupun selalu menangis dan mencarinya jika Bapa tidak ada di rumah. Bila kami sekeluarga hendak ke kebun, Bapa selalu mengangkatku di pundaknya, aku duduk manis dan nyaman sambil memegang kepala beliau, kami menyusuri jalan bebatuan menuju ladang kecil di atas bukit. Kedua kakakku dibiarkan jalan sendiri, dan yang bungsu digendong Mama. 

Di masa-masa ketika daya tahan tubuhku lemah, Bapa sangat menjagaku. Kedua kakakku sering mengejekku karena tubuhku yang sangat kurus, Bapa selalu bilang, “Nanti dia gemuk kalau sudah besar, Bapa juga dulu kurus waktu kecil,” Ia menghiburku dan membuatku tidak berkecil hati. Aku juga dulu sangat penakut. Aku tak mau masuk ke kamar mandi dan buang air jika tidak ada yang menjagaku. Bapa sering kusiksa tengah malam jika tiba-tiba aku terbangun karena kebelet ingin pipis dan buang air besar. Suatu waktu saat ada seekor cecak di dinding kamar mandi, aku menangis kencang dan hendak mengurungkan niatku untuk buang air. Kuminta Bapa untuk membunuh cecak tersebut. Bapa memberitahuku tentang cecak, masih aku ingat kata-kata Bapa, “Cecak itu baik, mereka makan nyamuk. Kalau nanti dibunuh, pasti banyak nyamuk di rumah.” Lambat laun aku menjadi tidak takut pada cecak dan merasa mereka adalah pahlawan.

Aku penakut, sangat penakut. Hal-hal yang aku takuti dulu adalah bunyi pesawat, pelangi, suara bebatuan jatuh yang diturunkan dari kap mobil truk, film hantu dan reklame AIDS di TV karena pelakonnya mengenakan baju wayang dan mendandan wajahnya dengan  warna putih. Mendengar suaranya saja buatku merinding dan ingin menangis. Dulu aku suka bersembunyi di dalam kain sarung Bapa jika kami menonton film hantu. Aku bisa tidak tidur beberapa malam karena sering terbawa bayangan hantu yang sudah kutonton. Bapa selalu membuatku tenang, caranya agar aku tidak takut dengan memberitahuku bahwa hantu yang yang ada di dalam film hanyalah manusia yang menyamar. Bapa bilang, mereka hanya berpura-pura jadi hantu supaya bisa mencuri di rumah orang yang ketakutan. Aku tahu Bapa bohong waktu itu, karena tanpa sengaja aku melihat adegan saat hantu tersebut melayang-layang, mana mungkin manusia bisa melayang-layang. Aku memprotes sambil menangis di dalam sarungnya.

Segala hal yang pernah Bapa katakan padaku tersimpan baik dalam benakku. Tubuhku membaik dan sehat saat memasuki masa puber, berat badanku naik dan tubuhku bugar. Akupun bukan gadis kecil penakut lagi. Bapa juga berhasil membuatku tidak takut setan, "Setan itu hanya bayangan, dia tidak makan orang!" Tapi.... mungkin aku tetap akan lari saat melihat setan, hehehe... Bagaimana Bapa?
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan