Index Labels

Part 1 Goresan Papa…. Papa… Bapakku

. . 4 komentar:


Tiba-tiba aku merindukan Bapa, ayahku. Jauh begini lebih banyak pikiranku untuk mengenangnya ketimbang mama, padahal jika dipikir-pikir banyak sikap Bapa dulu yang selalu buatku menyimpan benci padanya. Sering sekali beliau menghukumku tanpa ampun. Percaya atau tidak, cara Bapa mendidikku berbeda jauh dengan caranya mendidik ketiga saudaraku. Aku masih terus dipukul walau usiaku 18 tahun, bahkan menjelang kuliahpun Bapa masih sering menghantamku dengan kedua tangannya. Aku dianggap seperti pemberontak dan manusia pembangkang. Senang sekali jika dia tidak ada di rumah, aku bisa bebas menyanyi sekencang-kencangnya dan mengabaikan suruhan mama untuk mencuci piring atau menimbah air. Tapi jika dia ada, aku tidak bisa banyak bertingkah karena Bapa akan membentak atau mengancam akan memukulku jika tidak menuruti perintahnya. Aku takut padanya dan enggan duduk di dekatnya. Berulang kali aku benci padanya, menyumpahinya dalam hati karena bahkan adikku yang laki-laki tidak pernah mendapat tangannya. Aku selalu merasa seperti anak tiri.
Puncak marahku padanya saat menjelang Ujian Akhir Nasional. Kami bertengkar hebat dan Bapa membanting handphoneku sampai hancur. Kala itu aku menyumpahinya dalam hati dan berjanji takkan berurusan dengannya lagi. Lama sekali kami tidak bicara dan aku selalu menghilang jika Bapa di rumah. Kulakukan segala hal sebagai bentuk perlawananku, pulang larut malam, berbuat sesuka hatiku selama beberapa minggu. Bapa tidak berani menegurku, bahkan melirikku saat pulang tengah malam dengan gaya bajingan dan pembangkangkupun, dia tidak menyapa atau bertanya darimana aku. Aku benar-benar marah dan menyimpan dendam padanya saat itu, hingga suatu malam saat aku hendak mengurus surat-surat untuk mencoba mendaftar beasiswa di UGM, aku mendapat kecelakaan, menabrak mobil seorang kontraktor di kompleksku. Telapak tanganku keseleo, kelingking kaki kiriku bengkok dan beberapa luka kecil di tubuhku. Saat itu Bapa berbicara padaku, memperbaiki sepeda motor yang tadi kubawa dan menyuruh sepupuku mengantarku ke warnet tempat aku mengurus pendaftaran online untuk UGM. Masih ada rasa marah dan dendamku saat itu, tapi aku teringat kata-kata mama saat memijat tubuhku usai kecelakaan, “Jangan marah dan dendam sama orang tua, sesalah apapun Bapa padamu. Kualat jadinya,” Mama berkata begitu sambil menangis dan menatap diriku dengan sungguh-sungguh. Aku merenung semalaman, menangis di balik selimutku tanpa mempedulikan telapak tanganku yang ngilu dan membengkak. Aku merasa bersalah sekali, tapi tidak bisa kuhilangkan egoku untuk minta maaf padanya.
Menjelang UAN, hubungan kami membaik. Bapa jarang memarahiku dan memperhatikan kegiatan belajarku diam-diam. Dia memberiku handphone bekasnya sebagai ganti punyaku yang sudah hancur dibantingnya. Tombol-tombol handphone itu kupretel dan kucabut semua, alibi agar Bapa tidak mengambilnya lagi. Aku tau sebenarnya saat itu Bapa ingin marah, tapi diurungkannya karena baru saja kami bermusuhan lama. Egoku naik karena merasa Bapa seperti kalah.
Selesai ujian dan berita kelulusan, aku berhasil membuat yang terbaik dan dengan bangga memamerkan juara 1 nemku. Bapa memuji-muji dan memanjakanku beberapa hari, beliau juga mulai memikirkan keinginan kerasku untuk kuliah di Yogyakarta, kota impianku. Suatu malam dia tiba-tiba menyetujuinya walau sebelumnya ia melarangku ke Jawa dengan alasan sebentar lagi daratan Jawa akan tenggelam oleh Lumpur Sidoardjo. Aku sering memikirkan alasannya itu, apa benar karena itu? Aku curiga dia tidak mengijinkanku karena pernah sekali saat bertengkar dengan Mama dan Bapa, aku mengancam mereka akan menggunakan narkoba, merokok dan miras saat kuliah dan berada jauh dari mereka. Aku tidak serius saat berbicara begitu! Tapi ujung-ujungnya malah aku berangkat ke Makassar karena menurut bapa dan mama aku akan aman disana lantaran ada kakak di atasku yang masih kuliah juga.
Saat berangkat ke Makassar, Bapa tidak ikut mengantarku di pelabuhan. Aku menangis sekencang-kencangnya di halaman, membanting tas dan koperku, dan mengadu pada Mama kenapa Bapa tak juga pulang dari kantor dan ikut mengantarku. Aku ingin Bapa melihatku saat berangkat, meludahi jidatku seperti yang dilakukannya pada kedua kakakku saat berangkat kuliah dulu. Tapi ia tak muncul juga sampai kendaraan umum yang akan membawaku ke pelabuhan datang menjemputku. Bapa juga mengabaikan teleponku. Sedikit harapanku saat kuingat Bapa suka pura-pura tidak ikut mengantar ke pelabuhan saat anaknya hendak berangkat kuliah, tapi beliau tetap muncul di pelabuhan akhirnya. Aku menunggu di pelabuhan, berulangkali aku mengirim pesan singkat padanya, katanya ada tamu penting dari Jakarta dan Bapa tidak bisa meninggalkan mereka. Air mataku tumpah, menangis sejadi-jadinya dalam bilik kapal yang masih bersandar tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapku heran. Saat kapal hendak jalanpun Bapa tak jua muncul. Aku mulai mengetik pesan panjang padanya, kusempatkan minta maaf untuk semua pertengkaran, kenakalanku dan sikap pembangkangku padanya selama ini. Aku juga berjanji tidak akan nakal lagi. Bapa membalas pesanku,
“Iya belajar yang baik. Jangan bekelai sama Vik (Kakak diatasku biasa dipanggil Wik)
dan jangan lupa berdoa!”

Astaga, antara terharu dan geli, Bapa yang hampir tak pernah melihat gereja lagi mengingatkanku untuk berdoa. Bapa yang selalu tidak peduli saat aku belajar mengingatkanku untuk belajar dengan baik. Aku terisak sambil menatap kosong gelombang laut dari kapal yang semakin membawaku jauh dari Bapa. Aku semakin merindukannya. Dua hari kemudian, saat aku telah tiba di tanah orang, tengah malam tidak biasanya Bapa tiba-tiba mengirim pesan padaku. Awalnya beliau bertanya apa yang sedang aku lakukan, apa aku belum tidur? Kemudian dia mengabariku tentang kucing kesayanganku. Bapa bilang, dua hari belakangan kucingku gelisah dan seperti mencariku. Katanya, malam itu kucing lorengku tak mau turun dari atap walau Bapa sudah memanggilnya berulangkali. Bapa bilang, mungkin kucingku mencariku dan merindukanku juga. Aku tertawa saat membaca pesannya kemudian berpura-pura ke kamar mandi, di dalam kamar mandi aku terisak. Ingin sekali kutanya padanya mengapa perlakuan dan didikannya padaku lebih keras dari yang lain? Mengapa Bapa suka memarahiku dan memukulku? Jauh-jauh hari baru aku berpikir, betapa Bapa sangat menyayangiku dan betapa sulit mendidikku yang terlalu kepala batu dan pembangkang ini. Minta maaf Bapa…

                                                                                Makassar, 25 Januari 2013

4 komentar:

  1. siip gan ane tunggu folback nya http://sekitarkita96.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. Orang tua dengan kehidupan masa lalu serta pendidikan yang mereka peroleh tentu beda dengan pendidikan yang ada zaman ini, setiap masa ada perbedaan walau hakikat dan tujuannya sama yaitu mengingingkan kebaikan. Antara bapa Vera dan Vera ada perbedaan pandangan sehingga bentrok itu terjadi. Dan seiring waktu yg bergulir akhirnya syukurlah pengertian keduanya terjalin. Manusia2 hebat selalu ada harga yang dibayar untuk sukses, dan masa2 sulit hanyalah pondasi atau gemblengan agar tetap kokoh. Apalagi dengan dunia yang mulai serba cepat ini...,

    sukses buat keluarganya Vera..,

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih motivasinya bang...
      sip... (Y) sukses juga bwt abang

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan