Index Labels

AKTIVITAS SUBUH NELAYAN TPI POTTERE

. . Tidak ada komentar:

Masih subuh, angin laut meniup kencang, terasa sekali dinginnya di musim hujan bulan Januari. Gelombang pasang mengayun perahu-perahu nelayan yang terparkir di tepian. Dermaga telah penuh oleh kedatangan orang-orang yang hendak membeli ikan, ada yang sekedar untuk dibawa pulang, dan ada yang membeli dalam jumlah besar dan dijual kembali, mereka adalah para pengecer ikan.  Warung-warung sekitar dermaga telah banyak pengunjungnya, sejumlah orang tengah menikmati ikan segar sebagai sarapan sembari bercengkrama, berbagi cerita di tengah pagi yang masih lumayan sunyi untuk tempat-tempat di luar sana.

Aku turut menghabiskan satu porsi sup ikan Lamuru yang dimakan dengan nasi putih panas. Tidak sendiri, karena pagi itu aku duduk bersama dosenku, dua anaknya dan empat teman sejurusanku. Kunjungan ke TPI Pottere memang telah direncanakan sebelumnya dan dijadikan salah satu bagian dari jam kuliah. Usai mendengar sedikit kuliah dosenku, kami mendapat kesempatan menyisir dermaga yang telah sibuk di tengah terpaan angin laut yang kencang. Orang-orang berebutan ke tepi dermaga saat perahu nelayan merapat, melepas tambat lalu memindah ikan-ikan segar dari lantai papan kapal ke keranjang-keranjang yang disuguhkan pengecer ikan dari dermaga.  

Seorang pengecer ikan bernama Samsudin  telah memajang keranjang-keranjang ikannya yang telah terisi penuh di sisi pasar ikan yang terletak di luar dermaga. Ia memberitahuku tentang aktifitasnya tiap pagi di TPI Pottere.

“Saya sudah berada disini sejak jam 4 pagi,” terangnya sambil sibuk mengusir lalat hitam yang hinggap di ikan jenis Ekor Kuning yang ia dapat dari nelayan.  Samsudin biasanya membeli ikan pada para nelayan sebanyak setengah ton yang kemudian dijualnya kembali ke masyarakat atau para pengecer tingkat dua. Katanya, distribusi ikan di TPI Pottere berlangsung seperti rantai makanan. Dimana  ada nelayan sebagai produsen utama kemudian diikuti oleh para pengecer sebagai konsumen, konsumenpun berantai.

Aku kembali melangkah mendekati ujung dermaga, semakin jelas kulihat warna air laut yang keruh, banyak kapal-kapal nelayan terparkir di tepi dermaga dan diayun-ayun gelombang, gelombangnya kencang sekali.

Seorang pengecer ikan menyapaku, namanya Sahbudin. Ia juga seorang pengecer ikan tingkat pertama yang punya langganan tetap di dermaga.  Sahbudin mengeluhkan harga ikan yang sangat mahal di bulan ini. Katanya, pendapatan ikan kurang di musim hujan, hal itu terjadi sejak memasuki tahun baru.  “Biasanya harga ikan sekitar seratus lima puluh ribu rupiah tiap baskomnya, tapi sekarang naik menjadi empat ratus ribu rupiah,” ujar Sahbudin yang diikuti anggukan Ramli, salah satu pengecer ikan juga.

Menurut Sahbudin, para nelayan memang kesulitan mendapat ikan pada musim ini. Selain karena hujan, juga karena angin dan gelombang. Tidak banyak nelayan yang berani melaut, kalaupun ada , nelayan rata-rata melaut dan mencari ikan sampai ke Pulau Lombok, mereka juga bisa berhari-hari berada di lautan untuk mengumpulkan ikan. Hal ini akan berlangsung sampai bulan empat. Kata Sahbudin, harga ikan akan kembali normal saat memasuki bulan april.

Saat kutinggalkan Sahbudin dan Ramli, kusempatkan sedikit waktuku memperhatikan kesibukan para nelayan yang masih berada dalam kapal. Banyak orang mengerumuni dermaga dan menanti ikan-ikan segar yang dibagi para nelayan, ada yang sampai berebutan. Sementara para nelayan memilah-milah jenis ikan yang kemudian dituang ke keranjang-keranjang para pengecer ikan. Pakaian para nelayan basah. Akupun tergiur saat memandang ikan kakap merah yang turut masuk ke keranjang-keranjang di kapal. Sepertinya enak.

Aku dan seorang teman melangkah keluar dermaga setelah mendapat cukup data. Setibanya di tempat parkir, kami bertemu seorang penjual ikan yang menggunakan sepeda motor, aku mendekati dan bertanya-tanya padanya. Penjual ikan keliling bernama Asis tersebut membeli ikannya pada pengecer ikan tingkat pertama, ia tidak membelinya langsung pada nelayan. Setiap hari, dia mendatangi TPI Pottere dan membeli enam jenis ikan yang disimpannya pada bak-bak berbahan pelastik di sepeda motornya  kemudian dijual kembali ke orang-orang di Perumahan Dosen dekat Rumah Sakit Wahidin. Ia juga mengeluhkan harga ikan yang naik, “Biasanya harga ikan untuk semua bak di sepeda motor saya berkisar delapan puluh ribu rupiah, tapi sekarang naik menjadi seratus tiga puluh ribu rupiah.” Katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan