Index Labels

Lepas Rindu di Pesisir Kota Kecilku LABUAN BAJO

. . 2 komentar:






Sudah hampir tengah hari saat aku tengok kota kecilku dari pintu kapal penumpang Tilong Kabila. Pelabuhan hiruk-pikuk dan ramai oleh warga kota yang berkunjung hendak menjemput penumpang yang baru tiba, di sisi lain pelabuhan adalah para penumpang yang akan berangkat disertai para pengantar yang berdesak-desakan membawa barang. Aku baru saja tiba setelah perjalanan 16 jam dari pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan. Venan berdiri di sampingku menenteng tas dan beberapa barang titipan, sepupuku ini tampak kelelahan saat tubuhnya terus-menerus didorong oleh penumpang di belakangnya.
            “Belum bisa jalan juga?” tanyanya meringis kelelahan. Aku memandang tangga turun yang masih penuh lalu mengangguk padanya.
            “Sabar yah nara[1]! Sedikit lagi ini.” Ujarku turut prihatin padanya yang keberatan oleh bawaannya yang banyak. Ibu separuh baya yang berdiri di depanku masih menggendong anaknya yang berusia sekitar 4 tahun lebih. Aku agak iba melihat sang ibu yang kesusahan ditengah himpitan penumpang yang berusaha turun dari kapal. Panas terik matahari siang itu seperti membakar kulitku.
            “Labuan Bajo agak berubah yah weta[2]? Agak bersih.” Komentar Venan di tengah hiruk-pikuk. Aku lalu memperhatikan pemandangan Labuan bajo yang memang terlihat agak berbeda.
            “Iya. Satu tahun yang lalu tidak sebagus ini, tapi panasnya semakin ganas saja, nara.” Ujarku sambil melap peluh di pelipis. Mataku lalu terarah pada perahu-perahu kecil di sekitar dermaga yang seolah menampilkan pesonanya sendiri, bersama wajah tenang laut biru yang disirami cahaya matahari siang.
            “Nanti hari minggu kita berenang ke Pantai Pede!” ajaknya lagi.
            “Iya, iya... aku juga punya rencana begitu.”  Memikirkan Pantai Pede membuat rasa lelahku sedikit reda. Hari Minggu memang hari yang tepat untuk kesana, karena akan ada banyak pengunjung yang akan berenang sekaligus menikmati suasana dan pemandangan pesisir pantai yang cerah.
            Aku menuruni tangga perlahan-lahan, Venan masih di belakangku mengikuti langkahku. Si ibu dan anaknya berhasil turun beberapa menit sebelum kami. Padat sekali, musim liburan pelabuhan kapal penumpang selalu saja ramai. Aku mencari-cari ditengah keramaian seseorang yang akan menjemputku, Venan menyimpan tas di sisi kanan dermaga sambil beristirahat dan menghela nafas.
            “Siapa yang jemput?” tanyanya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan topi.
            “Aby.” Jawabku singkat masih terus mencari sosok kurus adik laki-lakiku di tengah keramaian penumpang dan penjemput.
            “Coba telepon ke nomornya!”
            “Sudah, tapi dia tidak menjawab. Mungkin tidak dengar.” Aku melihat kembali layar handphoneku dan mencari nomor ponsel Aby di daftar kontak, lalu menghubunginya kembali.
            “Halo..”
            “ kau dimana? Aku sudah menunggumu dari tadi di jalur penumpang turun.” Ujarku agak keras.
            “Iya, iya tunggu...” Aby menyahut dari seberang, “Aku baru masuk pelabuhan, kak.”
Pip... aku mengakhiri telepon dan duduk di samping Venan. Kami sama-sama memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di pelabuhan sambil meneguk air mineral. Ramai sekali. Aby muncul setelah beberapa saat. Ia masih memakai helmnya dan dengan santai memutar-mutar  kunci sepeda motor. Senyumnya mengembang lebar saat dia menemukan kami di tengah keramaian.
            “Kenapa lama sekali?” protesku agak kesal, “Bapa dimana?”
Aby meringis padaku lalu beralih pada Venan tanpa mempedulikan pertanyaanku. Mereka bercengkrama dan berbasa-basi sebentar.
            “Barangnya yang mana, Ine?” tanya Aby kemudian. Ia lalu melihat-lihat barang-barang yang tergeletak.
            “Tas yang itu!”aku menunjuk pada tas tangan berwarna hitam, “dan kardus rice cooker.” Aby lalu mengangkat keduanya, Venan juga ikut mengangkat barangnya. Aku cukup menggendong tas selempangku.
            “Kita ke tempat parkir dulu!” Ujar Aby mengarahkan, aku dan Venan mengikutinya dari belakang tanpa banyak bicara. Anggap saja dia komandan.
            Area parkir padat oleh kendaraan, sebagian besar sepeda motor. Belum sempat aku sampai di tempat motor Aby di parkir, seseorang dari sampingku tiba-tiba menyapa dengan suara riang.
            “Ine...” aku berbalik dan mendapati guru SMAku melangkah ke arahku, wajahnya sumringah dan tampak senang sekali. Aku berteriak senang dan berlari ke arahnya.
            “ Apa kabar, Pak?” ujarku girang. Pak’ Frans mencubit pipiku.
            “Kabar baik. Kulitmu sekarang terlihat agak putih.” Pujinya. Aku tertawa.
            “Tinggal di Makassar tidak ada kerjaan Pak, dalam kosaaaaaan... saja, makanya putih, jarang terkena sinar matahari.” Jawabku.
            “Yah, tapi bersiaplah untuk  hitam lagi selama liburan. Labuan Bajo semakin panas, Ine.” Aku mengangguk.
            “Iya Pak.” Jawabku lalu tertawa, “Bapak mau menjemput juga yah?” tanyaku.
            “Iya, iya. Ada anak keluarga yang juga baru datang dari Makassar.” Katanya. Pak’ Frans terlihat lebih gemuk sekarang, terakhir kulihat 1 tahun yang lalu saat mengurus ijasah SMA, sifat ramahnya tidak berubah sama sekali. Beliau masih tampak enerjik dan bersemangat. Aku jadi teringat kembali masa-masa SMA dulu saat beliau menjadi wali kelas kami. Penuh dengan cerita seru dan mengharukan. Seperti tentang acara makan bersama di rumahnya untuk perpisahan kami setelah tamat SMA, aku masih ingat dengan tiga ekor ikan merah yang kami panggang bersama. Seru sekali waktu itu.
            “Beberapa temanmu yang lain juga sudah di Labuan Bajo. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu mereka.” Ujar Pak’ Frans membuyarkan lamunanku.
            “Oh iya Pak, saya juga berencana mengunjungi mereka nanti.” Jawabku lagi.
            “Iya, iya. Bapak duluan dulu yah, sepertinya keponakan bapak sudah turun dari kapal.” Aku mengangguk lalu menjabat tangan Pak’ Frans yang kemudian berlalu dengan terburu-buru. Beberapa saat kupandang punggung Pak’ Frans sampai menghilang di tengah keramaian.
            “INE...” teriak Aby dari seberang. Aku bergegas ke arahnya yang masih meringis kesal, sepertinya sudah dari tadi dia menantiku di tengah terik matahari, aku tertawa cekikikan.
            “Dimana Venan?” tanyaku tanpa mempedulikan wajah gusar adikku.
            “Dia menumpang pada omnya,” jawab Aby agak ketus lalu menyalakan mesin sepeda motor. Perlahan kami keluar dari area pelabuhan yang masih ramai, dan aku dengan giat memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, siapa tau ada yang aku kenal.
            Kota kecilku agak berubah, ada beberapa toko kecil baru yang sebelumnya tidak ada. Jalanannya juga telah tertata rapi. Tidak ada lagi jalanan yang rusak seperti yang terakhir kulihat sebelum meninggalkannya. Turis manca negara dari berbagai ragam suku bangsa terlihat lalu lalang di jalanan. Traffic light telah difungsikan dan salah satunya di perbarui, tepat di persimpangan setelah Gereja Paroki Roh Kudus. Aku terpesona melihat gereja Paroki Roh Kudus yang menjulang tinggi, halaman gereja telah diperbarui dan diperbaiki di beberapa sisi, jadi terlihat lebih luas dan bersih.
            Ada patung penari caci[3] yang baru di pertigaan jalan. Patungnya menggambarkan dua penari caci yang sedang mengacungkan senjatanya dengan gagah berani, keduanya mengenakan kain songke[4]4 dengan bertelanjang dada, sambil mengacungkan senjata perangnya. Aby mulai bercerita tentang patung tersebut, katanya lebih cantik dilihat pada malam hari. Ada lampu hias yang menyala dari tiga sisi di sekitar patung.  Aku berencana dalam hati akan melihatnya nanti malam.
            “Nanti aku akan mengajakmu ke Bukit Cinta.” Ujar Aby tiba-tiba.
            “Bukit Cinta? Dimana itu?” tanyaku tertarik.
Aby mendesah sesaat, “Di dekat SMIP. Kau bisa mendaki dan melihat pemandangan laut dari sana. Kau ingat Binongko kan? Yah, dekat dari sana.” Jawabnya. Aku mencoba mengingat-ngingat.
            “Apa kau maksud bukit yang sudah di gusur itu yah?” aku teringat pada bukit kecil yang sengaja digusur ujungnya untuk jalur pesawat. Pemandangan disana memang bagus, menghadap ke laut dan aku sudah dua kali mengunjunginya bersama teman-temanku saat masa SMA.
            “Bukan. Itu lain lagi. Memang letaknya tidak jauh dari situ, Bukit Cinta lebih bagus.” Jawab Aby lagi. Aku penasaran.
            “Okelah. Nanti kesana yah.” Pintaku yang diikuti anggukan Aby, “Ngomong-ngomong, kenapa namanya Bukit Cinta?”
Aby menancap gas, menyalip angkutan umum di depan kami lalu memperlambat kembali laju sepeda motor.
            “Nama itu trend untuk anak muda di Labuan Bajo, karena bukit tersebut jadi lokasi utama untuk berkencan dan pacaran. Bagaimana tidak, pemandangannya kan bagus dan romantis. Nah, dari situlah makanya dijuluki Bukit Cinta.” Aku ber-oh sambil mengangguk-angguk mengerti. Wah, sepertinya keren.
            Kami tiba di rumah beberapa menit kemudian. Bapa dan mama menyambutku dengan pelukan hangat kemudian menawari ikan segar yang sudah dipanggang. Ternyata Bapa baru saja balik dari memancing ikan, makanya beliau tidak menjemputku. Aku menyantap ikannya dengan lahap sambil mendengar cerita Bapa tentang kisah memancingnya tadi pagi. Kami berniat akan pergi bertamasya sambil memancing di kemudian hari.
            Usai makan, aku beristirahat di halaman dan memperhatikan Bapa yang sedang memperbaiki alat mancing tradisionalnya. Beliau sedang berkonsentrasi mengaitkan senar dengan kail kemudian menggulung senar yang sudah dipasang kail dan pemberat tersebut pada botol air mineral bekas. Beliau hanya memakai celana pendek dengan sarung yang melingkar pundaknya. Sesekali kulihat beliau mendesah lelah sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit. Setelah cukup menunggu sampai semua makananku jatuh di lambung, aku bergegas ke kamar untuk istirahat. Perjalanan dari Makassar benar-benar membuatku lelah.
***
             Aku tidak mau menyia-nyiakan liburan kali ini. Beberapa kali aku mengikuti Bapa dan Aby pergi memancing di tengah laut. Kami menggunakan perahu motor dengan alat mancing sederhana dan memancing dari pagi sampai saat matahari hampir mencium ufuk barat. Jika beruntung, kami bisa mendapat tangkapan yang banyak, tapi jika tidak, kami hanya mendapat beberapa ekor ikan kecil atau tidak mendapat ikan sama sekali. Bapa bilang, “yang penting happy!” aku dan Aby tertawa mendengar gurauan Bapa. Angin sore menerpa muka kami saat perlahan perahu motor membawa kami meninggalkan lautan lepas menuju pesisir.
            Hari minggunya, aku menempatkan waktu bertamasya di Pantai Pede yang selalu ramai. Beberapa kali aku bertemu teman lama disana dan berbagi cerita dengan mereka. Aku juga memperhatikan pengunjung yang asyik berenang dengan keluarganya dan penasaran dengan permainan banana boat yang lalu lalang di pantai. Ingin sekali rasanya mencobanya sesekali, tapi Mama tak pernah mengijinkan karena aku tidak bisa berenang. Walau sudah berapa kali meyakinkan beliau bahwa akan ada pemandu dan kami tetap menggunakan pelampung, Mama tetap bersikukuh untuk tidak mengeluarkan uangnya agar aku bisa mencoba banana boat tersebut, aku kecewa sekali.
            Suatu sore Aby memenuhi janjinya untuk menemaniku mengunjungi Bukit Cinta. Kami mengenakan sepatu kets dan membawa air minum. Aby memanduku mendaki bukit yang ditumbuhi rumput hijau, lumayan terjal. Tiba di puncak bukit aku terkesima memandang lautan dan pulau-pulau kecil yang seolah tepat berada di depanku. Kami lalu memilih duduk  di bawah salah satu pohon yang rindang dan menghadap ke pemandangan laut. Matahari berwarna jingga dan hampir tenggelam di balik pulau.
            “Labuan Bajo memang cantik.” Gumamku masih memandang lautan dengan penuh kagum. Aby tertawa kecil lalu meneguk air minumnya.
            “Memang... tidak ada duanya.” Ujar Aby ikut mengagumi. Kami lalu berbincang-bincang, sesekali menyapa pengunjung lain yang juga datang, ada yang berpasangan. Kemudian saat matahari telah hilang di telan pulau, kami memutuskan untuk turun dari bukit sebelum benar-benar gelap.
Tiba bulan Agustus, liburanku hampir habis. Aku jadi berpikir tentang pawai pembangunan yang sudah jadi tradisi setiap tahun di kota Labuan Bajo. Pada tanggal 18 Agustus,  Aku tak mau ketinggalan menyaksikan konvoi mobil hias sepanjang jalan kota Labuan Bajo yang semarak dan ramai. Instansi, komunitas dan sekolah-sekolah baik dari tingkat taman kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas berlomba-lomba menghias mobilnya sesuai karakter masing-masing. Ada juga rombongan pejalan kaki dengan kostum yang menunjukan ciri khas budaya suku bangsa di Indonesia dan profesi. Penampilan marcing band dari Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah atas turut meramaikan suasana. Ratusan warga masyarakat kota Labuan Bajo tidak mau ketinggalan untuk menyaksikannya dan telah memenuhi pesisir jalan sepanjang kota Labuan Bajo.
            Aku ditemani Lia sahabatku memilih berdiri di depan gapura. Disana sudah ada rombongan bupati dan para pejabat yang akan menyaksikan pertunjukan dari para peserta konvoi. Aku berencana akan mengabadikan momen ini dengan kamera, jadi tanpa pikir panjang, kutarik Lia dan menerobos kerumunan massa dan mencari tempat paling strategis untuk menyaksikan pertunjukan.
            “Kau yakin akan mengambil gambarnya dari sini?” tanya Lia agak risih karena malu telah menerobos kerumunan.
            “Yah iyalah. Tempat ini strategis, aku pasti bisa mendapat semua gambarnya.”
            “Waduh... tapi malu...” Lia memelankan suaranya, tangannya memegang ujung bajuku.
            “Santailah! Tidak ada yang melihat kita. Semua orang sedang fokus memperhatikan pertunjukan,” Ujarku meyakinkan Lia. Lia mengangguk ragu.
            Aku mulai memotret pertunjukan. Rasanya terpesona sekali saat melihat tarian Ndundundake[5]diiringi musik gendang dan gong yang ditarikan anak-anak Sekolah Dasar dengan lincah. Lama sekali tidak melihat dan mendengar ini.
            Kelompok bela diri juga tidak ketinggalan. Mereka menunjukan aksi bela diri di depan gapura dengan jurus-jurus sesuai aliran masing-masing. Ada kempo, taekwondo, karate, boxer dan beberapa yang lain. Aku dan Lia jadi ngeri saat mereka menampilkan aksi-aksi berbahaya di depan umum dengan penuh percaya diri.
            “Kepalanya tidak pecah?” tanya Lia ngeri saat seorang anggota bela diri memecahkan batu-bata di kepala temannya dengan keras. Aku meringis.
            “Iya. Mungkin kepalanya terbuat dari baja.” Jawabku asal tanpa mengalihkan pandangan dari pertunjukan yang masih berjalan dengan aksi-aksi berbahaya. Tepuk tangan dan sorak warga yang menonton mengiringi peserta pertunjukan yang mengakhiri penampilannnya. Aku dan Lia juga ikut bertepuk tangan dan menyoraki para peserta. Belum selesai menyoraki peserta bela diri yang berlalu, kami di kejutkan oleh cipratan air yang datang bertubi-tubi secara tiba-tiba. Orang-orang berlari menghindari air. Aku mencari asal air sambil berlari menghindar, semprotan air makin banyak dan mengenai semua warga yang sedang menonton,  ternyata tiba giliran petugas kebakaran menunjukan aksinya. Lia dan aku tertawa terbahak-bahak, kami telah basah kuyup. Aku memilih untuk tidak mengumpat aksi petugas kebakaran dan dengan lapang dada menganggap ini sebagai kejutan dan hadiah untuk pawai pembangunan kali ini. Lia malah tertawa dan bersyukur.
            “Wah, petugas kebakarannya baik hati dan pengertian sekali. Mereka tau kita telah berpanas-panas ria di tengah terik matahari dari tadi.” Gurau Lia lalu tertawa ngakak. Aku mengiyakan.
            “Petugas kebakaran pahlawanku!” sorakku ikut tertawa bersama Lia, beberapa orang memandang kami sambil mengerutkan dahi, sepertinya mereka heran dan bingung.
***
            Aku mengemasi barang-barangku pagi hari,  malam nanti akan balik ke Makassar lagi. Liburan telah usai. Mama membantuku membungkus oleh-oleh khas favoritku, yakni Ikan Cara asin yang sudah dikeringkan. Pertama-tama beliau mengantongi ikannya dengan pelastik dua lapis dan memasukkannya dalam kardus lalu mengikatnya dengan tali nilon. Tujuannya agar bau ikan tidak tercium.
            Sisa-sisa waktu kuhabiskan dengan bermain gitar di halaman di bawah pohon rindang sambil menanti makan siang. Si sulung kak’ Iren menemuiku setelah memanggang ikan di dapur. Ia mengusap pundakku lalu duduk di sampingku.
            “Sayang yah, kita tidak sempat ke Pulau Komodo.”ujarnya. Aku menggangguk, mulutku enggan untuk bicara.
            “Kau harus datang lagi tahun depan, biar kita bisa kesana.” Aku memandang wajah kak’ Iren yang bersungguh-sungguh.
            “Bapa terlalu sibuk dengan mancingnya. Makanya rencana ke Pulau Komodo dibatalkan terus.” Jawabku bersungut-sungut. Kak’ Iren tertawa lalu mendorong pundakku.
            “Jangan bersikap seperti anak kecil, Ine!”
Aku memanyunkan bibir, tak peduli dengan kata-kata kakakku. Kami lalu menyanyi bersama sampai Mama akhirnya menyahut dari ruang makan untuk menyuruh kami makan.
           
            Aku memeluk Mama, Bapa, Aby dan Kak’ Iren di pelabuhan. Kapal yang akan membawaku ke Makassar telah bersandar di dermaga sejak tadi. Setelah pamit pada mereka, aku mengikuti rombongan penumpang yang hendak berangkat sambil menenteng tas dan kardus oleh-olehku. Aku tidak mau berbalik untuk melihat keluargaku yang pasti masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan punggungku yang menjauh. Pelan-pelan aku menaiki tangga menuju kapal dan saat tiba di pintunya, kusempatkan untuk melihat kota kecilku yang tetap cantik di malam hari. Cahaya lampu-lampu yang beragam dari perumahan membuat aku rindu dan tidak rela meninggalkannya. Bel peringatan tanda kapal akan berangkat membuat hatiku pilu dan terpukul. Aku memandang langit yang penuh bintang-bintang lalu bergantian memandang kota Labuan Bajo malam hari yang perlahan mengecil menjadi setitik cahaya. Mataku berkaca-kaca...
            “Sampai jumpa tahun depan kota kecilku...”

*TAMAT*
           




[1]Nara: panggilan untuk saudara laki-laki
[2] Weta: panggilan untuk saudara perempuan
3 Caci: tarian perang tradisional adat Manggarai
[4] Songke: kain tenunan khas Manggarai
[5] Ndundundake: tarian adat manggarai yang biasa ditarikan secara massal pada upacara adat.

2 komentar:

  1. bahali baba kunjung juga blog ku ee sayang
    http://srhyharyanti.blogspot.com

    BalasHapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan