Index Labels

Labuan Bajo.... Fenomena Kecil yang Membuatku Berdecak

. . 2 komentar:
Cerita kecil.... :)


18 Juli 2012 lalu saya tengah berada dalam perjalanan menuju kampung halaman. Kapal penumpang Tilong Kabila membawa saya pulang ke Labuan Bajo dengan menempuh perjalanan 16 jam dari pelabuhan Makasaar, Sulawesi Selatan. Penumpang kapal saat itu sangat padat. Ruangan untuk kelas ekonomi tidak mampu memuat semua penumpang kelas ekonomi, jadi saya dan beberapa penumpang lain terpaksa berdesak-desakan di dek luar.
Perjalanan panjang saya habiskan dengan menulis, membaca buku dan sebentar-sebentar menelusuri dek kapal. Betapa banyak penumpang kapal yang kesal karena melihat saya berulang-ulang kali lewat dan melangkahi tubuh mereka yang tengah tidur di lantai dek, sebenarnya saya berusaha untuk tidak mengantuk, makanya jalan-jalan terus. :)
Saya ingat apa yang saya pikirkan pada saat berada dalam perjalanan pulang. Saya memikirkan rumah, bapa-mama, Erang, Ningsi dan beberapa keluarga. Saya benar-benar merindukan mereka. Saya juga penasaran dengan situasi kota kecil saya yang 1 tahun lalu terlihat biasa, apakah berubah? Saya tidak sabar ingin melihatnya. Selain itu, saya juga merasa prihatin dengan keadaan saya dan penumpang lain, apalagi pada saat hujan mengguyur deras di tengah malam, dingin sekali. Dalam hati saya mengumpat-umpat kesal pada entah siapa, "perasaan harga tiketnya sama, kenapa kami tidak dapat tempat? sial!!".
Setibanya di pelabuhan Labuan Bajo, saya di kejutkan oleh banyaknya masa di sekitar pelabuhan. Hmmm... kebiasaan lama, bukan Pelabuhan Labuan Bajo lagi namanya jika pada saat jadwal Kapal Tilong kabila datang, tidak padat. Ada ratusan masa yang datang, ada penumpang, ada penghantar dan ada yang sekedar ingin jalan-jalan. Bayangkan bagaimana padatnya pelabuhan jika untuk 1 penumpang kapal saja, penghantarnya sampai 5 orang, bagaimana kalau penumpangnya 500 orang? lama-lama pelabuhan Labuan Bajo tenggelam dengan sendirinya. ckckckck. Belum lagi sistem keamanan pelabuhan yang amburadul dan tidak jelas, orang-orang tanpa tiket penumpang bisa dengan bebas masuk ke area pelabuhan, dan juga gerobak-gerobak barang yang diletakkan di sembarang tempat selalu menjadi penyebab utama macetnya alur pertukaran penumpang yang tiba dan yang hendak berangkat. Seperti saat saya turun hendak mencari penjemput, saya mendapati seorang kuli pengangkat barang sedang beradu mulut dengan beberapa pengunjung pelabuhan, sekilas kudengar penyebab pertengkaran mereka karena gerobak si kuli yang diletakan di tengah jalan membuat jalur lewat penumpang yang turun dari kapal terhambat. Si kuli mempertahankan, katanya "saya kan cari uang, jadi tolong dimengerti", para pengunjung malah memarah-marahi si kuli yang tampak ngotot itu. Saya menggeleng-geleng sebentar kemudian melanjutkan langkah saya, "sudah biasa!".
Di area parkir, saya bertemu dengan Erang dan seorang sepupu, tadinya saya berharap Bapa yang jemput, tapi ternyata dia. Setelah menyelesaikan urusan barang dan sanak-saudara di pelabuhan, kami bergegas pulang, betapa tidak sabarnya saya melihat kota kecil Labuan Bajo yang panasnya siap-siap membakar habis kulit.
Jalanan Labuan Bajo telah banyak berubah. Ada beberapa toko baru dan penginapan kecil yang tahun lalu belum ada. Tata kota juga sudah banyak berubah, seperti Traffic light yang di pasang di persimpangan dekat menurun gereja. Tanjakan yang sedikit tajam itu tampaknya agak bahaya. Saya mulai membayangkan jika ada truk besar yang datang dari arah atas dengan kecepatan cepat, kemudian tiba-tiba lampu merah dan ada banyak kendaraan di depannya, apa yang terjadi? apalagi jika ternyata rem truk bermasalah, pasti terjadilah tabrakan beruntun yang sangat berbahaya. Hmmm... saya agak ngeri saat membayangi itu, mudah-mudahan tidak terjadi.
Saya terkagum-kagum melihat  patung penari caci di pertigaan SMIP (sering di sebut begitu). Erang cerita, katanya pada awal-awal patungnya selesai dibuat, lampu-lampu penghias patung menyala dengan cantik di malam hari, tapi seiring waktu berlalu lampu-lampunya tidak menyala lagi. Mungkin rusak, saya agak kecewa.
Hampir 20 menit perjalanan dari pelabuhan saat saya tiba di rumah tepatnya di daerah Waesambi. Bapa sedang duduk di bawah Pohon Johar bersama mama dan Kak'Melki, mereka sudah menunggu saya dari tadi. Setelah memberi sedikit pelukan pada mereka, saya segera masuk rumah yang mengalami sedikit perubahan untuk isi dan tatanannya, bagian belakang sedang di renovasi tapi belum selesai. Rumah yang punya banyak cerita. Poster Avril Lavigne yang dulu saya tempel di pintu kamar masih ada, mereka tidak membuangnya, begitu juga tulisan nama saya yang saya tempel di atas poster.
Mama dan Bapa menyuruh saya makan. Ada ikan segar yang baru saja di goreng, enak sekali tampaknya. Sepupuku yang bernama Novi menyapa saya di dapur sambil menggoreng Ikan. Kami bercanda sebentar lalu saya kembali pada bapa dan mama yang sedang duduk di halaman.
Saya mulai bertanya-tanya tentang keadaan mereka dan mendengar komentar mereka tentang badan saya yang kurus. Kemudian kami beralih ke air bersih di Labuan Bajo yang hingga saat itu masih mengalami krisis dan tidak merata. Masih banyak warga yang harus mengambil air di sungai, hal itu berlangsung sudah sangat lama. Sejak Labuan Bajo belum menjadi ibu kota kabupaten Manggarai Barat hingga umurnya yang hampir 9 tahun setelah menjadi ibu kota kabupaten. Saya mulai gelisah saat memikirkan apa yang akan saya buat selama liburan, mama pasti akan menyuruh saya timbah air di kali (sungai) yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah setiap hari. Aduuuuuh.... Labuan Bajo....


2 komentar:

  1. Tahun 2002-2006 kami di Seminari Labuan Bajo. Kota Kkecil ini adalah tempat kami belajar, bermain, dan lain-lain.

    Aduh,,banyak hal yang kami lakukan di Kota Pariwsata ini. Agaknya tempat ini tak mampu menampung semua kisah yang aku tulis nanti tentang kami 'yang dulu' di kota kecil dengan air kapur ini. hanya satu kata 'Nostalgi'...
    Titip Rindu Buat Labuan Bajo

    BalasHapus
  2. maaf... terlambat balas pesannya.

    air kapurnya belum hilang sampai sekarang.,.. hehehe, tapi dia masih menarik seperti dulu, bahkan sekarang lebih menarik.
    sesekali, ayo ke Labuan Bajo lagi, ada banyak tempat yang sudah diperbaharui.. :)

    BalasHapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan