Index Labels

Sumpang Bita

. . Tidak ada komentar:


Kuliah Teknik Mencari dan Menulis Berita dari Asdar Muis membawa saya dan teman-teman ke suatu desa di Kecamatan Balocci tepatnya di Desa Sumpang Bita. Kami mengunjungi sebuah suaka peninggalan sejarah dan purbakala yang disebut Taman Purbakala  Sumpang Bita. Sumpang Bita berada di Kilometer 55 sebelah utara dari Kota Makassar. Saya, Evi dan Emma berangkat dari Makassar pada pukul 07.00 WITA dan tiba pada pukul 08.30 WITA. Kami menggunakan sepeda motor.
                Sampai di Taman Purbakala Sumpang Bita, kami membayar karcis masuk senilai Rp 5.000,-. Sepeda motor kami diijinkan ikut masuk ke taman purbakala yang terlihat sangat asri dan bersih itu. Ada jalan setapak yang melenggok naik, dan berbagai jenis pohon yang menjulang tinggi membuat Taman Purbakala Sumpang Bita terlihat sangat menarik.  Beberapa pengunjung tampak lalu lalang di sekitar taman, dan ada juga mahasiswa jurusan teknik Universitas Fajar yang tengah mengadakan kegiatan pengkaderan. Di sisi lain taman, beberapa siswa SMP juga sedang mengadakan Masa Orientasi Siswa.
                Asdar Muis belum tampak saat kami tiba, saya menghubungi beliau yang ternyata masih berada di perjalanan. Kami di suruh mengelilingi taman, menghitung jumlah anak tangga menuju gua Simpang Bita dan jumlah jejak telapak tangan yang ada di dalam gua. Saya sempat berpikir apa sebenarnya maksud beliau menugaskan kami begitu, sedikit kutebak mungkin ini sebagai hukuman atas kesalahan saya sebelumnya. Jadi, kamipun mulai melangkah dan menghitung anak tangga.

                Evi dan Emma melangkah duluan. Emma menyediakan pulpen dan secarik kertas, sedangkan Evi dengan semangat menghitung setiap anak tangga, saya sibuk dengan kamera dan memotret mereka. Mereka berhenti tiap hitungan ke sepuluh, mencatat jumlahnya kemudian menghitung lagi. Sinar matahari saat itu panas sekali, keringat saya bercucuran di sekujur tubuh, kewalahan juga menaiki anak tangga yang curam dan entah sampai dimana nantinya. Sesekali kami bercengkrama sambil beristirahat sebentar, memperhatikan bebatuan seperti karang dan pepohonan yang menjulang di sekitar anak tangga. Wahyu dan Aldi baru tiba dan bergabung setelah kami sudah hampir setengah perjalanan.
                Tiba di persimpangan, kami dibingungkan oleh 2 penunjuk arah yang bunyinya “ Bulu Sumi Cave, 100 M” dan “Gua Sumpang Bita, 200 M”, arah kiri untuk Bulu Sumi Cave dan lurus untuk  gua Simpang Bita. Setelah berdebat sebentar, akhirnya kami memutuskan untuk  berjalan lurus ke Gua Sumpang Bita. Aduh, masih ada 200 meter jauhnya, kami semua sudah kelelahan dan ngos-ngosan.
                Kami mendapati sebuah pondok lalu beristirahat sebentar. Wahyu dan Aldi mulai membahas perjalanan mereka dari Makassar dan mengeluh tentang bahan bakar sepeda motor mereka yang hampir habis. Emma berbaring sambil merentangkan kaki, sedangkan Evi duduk manis di tepian pondok. Tanpa basa-basi, saya mengabadikan momen itu, memotret mereka yang terlihat sangat kelelahan. Setelah beberapa menit kami melanjutkan perjalanan.

                Gua Sumpang Bita akhirnya kami capai, sayangnya gerbang memasuki gua terkunci, tidak ada penjaga ataupun pemandu wisata disana. Saya sangat kecewa, begitu juga teman-teman. Kami  tak bisa melihat jejak telapak tangan manusia purba yang sudah sejak tadi buat saya penasaran. Lalu kami berfoto-foto sebentar hingga tiba-tiba nomor  Asdar Muis menghubungi saya, seorang gadis berbicara pada saya dan menyuruh kami segera turun dari gua, ternyata  Asdar Muis telah tiba dengan rombongannya. Kami lalu bergegas turun, kaki saya seperti gemetar saat menuruni anak tangga yang jumlahnya kurang lebih 940 anak tangga itu. Setibanya di bawa, kami mendapati  Asdar Muis sedang duduk di bawah kolong rumah panggung sambil meyantap buah mangga.  Beliau lalu menyuruh kami duduk di bawah pohon yang rindang dan memulai kuliah. (Vera)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan