Index Labels

Kabut, Dingin dan Strawberry

. . 4 komentar:


            Perjalanan itu dimulai tanpa rencana.  Rasa bosan dan jenuh pada suasana kota Makassar membuat aku dan Dewi Jayanti memulai perjalanan kami dengan modal nekat. Berpetualang. Menjelajah desa kecil beberapa puluh kilo meter jauhnya dari ibu kota propinsi Sulawesi Selatan.
            Sudah lewat tengah hari ketika kami meninggalkan kota Makassar. Aku menikmati suasana dan pemandangan desa selama dalam  perjalanan. Sawah-sawah membentang keemasan di sekitar daerah Bili-Bili, tumbuhan hijau tumbuh dengan subur dan membentang di permukaan bukit yang mencakar langit, rasanya sudah lama aku tak melihat pemandangan seperti ini sejak meninggalkan kota kecilku di Flores Barat sana.
 Sesekali kami berhenti untuk mengambil gambar bukit-bukit hijau dan sawah-sawah di pematang. Pondok-pondok kecil di tengah sawah menarik perhatianku,  ingin sekali duduk di dalamnya sambil menikmati langit biru dan tanaman padi yang menguning, menelusuri pematang sambil memotret serangga-serangga kecil yang bertengger pada helai daun padi kemudian duduk manis pada pematang dan dikelilingi tanaman padi yang subur.  Tapi kami harus bergegas melanjutkan perjalanan.
Jalanan semakin menanjak dan banyak tikungan. Beberapa kali kami melewati jalanan batu berpasir dan berpapasan dengan truk-truk dari pertambangan yang ada di Bili-Bili. Pemukiman penduduk yang sederhana berjejer di kanan-kiri jalan yang kami lalui. Beberapa pemuda menyapa kami saat berhenti di sebuah musolah kecil, aku berbincang-bincang sebentar bersama mereka sambil menanti Dewi selesai sholat. Mereka pikir kami wartawan. “Foto ki dulu biar masuk TV cewe!” canda seorang pemuda.
Udara semakin terasa dingin saat kami berada semakin jauh dari kota Makassar, langit tampak mendung. Kuperkirakan hujan akan turun saat kami memasuki daerah Malino, dan dugaanku tepat. Kami berteduh beberapa saat sembari mengisi bahan bakar sepeda motor. Untungnya hujan gerimis tidak terlalu lama dan kami bisa melanjutkan perjalanan.
             Ratusan pohon akasia tumbuh kokoh dan menjulang tinggi menggapai langit. Dahan-dahannya yang lebat menghalangi sinar matahari yang agak redup karena mendung. Aku memperhatikan perkebunan sayur dan buah Strawberry di pinggir-pinggir jalan Malino. Daerah yang subur, pikirku. Beberapa petani sedang mengenyam rumput liar yang menjalar dan beberapanya lagi menanam. Tak ada pemandangan ini di Makassar.  Sebuah rumah tua tak berpenghuni menarik perhatian kami, kami segera berhenti sebentar untuk memotretnya.
            Sebuah perkebunan Strawberry di atas bukit membuat kami berhenti. Aku membawa masuk sepeda motor ke pelantaran tempat parkir sebuah vila kecil yang asri. Ada tempat bermain anak-anak dan sebuah kafe kecil yang bergaya kelasik, dengan hiasan-hiasan yang digantung dan berbunyi lembut saat angin pelan berhembus. Kolam-kolam kecil di buat di bagian kanan, menghadap pada tempat bermain anak-anak yang basah oleh hujan. Tanaman strawberry tampak subur berjejer pada lahan kecil yang dipagari. Aku menyapa pak petani yang sedang membersihkan lahan.
            “Panen strawberrynya kapan, pa?” tanyaku.
            “Biasanya sebulan sekali, sekitar tanggal 1 dan 2.” Si bapak menjawabku dengan ramah tanpa melepas pekerjaannya. Aku tersenyum padanya kemudian memperhatikan tanaman strawberry yang belum berbuah. Dewi sedang asik mengambil gambar pemandangan dari lantai atas kafe.
            Seorang gadis muda melayani kami di kafe. Kami menunggu pesanan sambil memperhatikan para tukang yang sedang bekerja. Bunyi suara las memekakkan telinga. Memecahkan kesunyian bukit yang sepi. Aku memandang kea rah bukit yang mendung. Kabut menutupi pepohonan pinus di kejauhan sana. Pulang nanti pasti hujan, pikirku.
            Rasa lega menyelimuti kami saat dua mangkuk bakso panas akhirnya tersaji di depan kami. Segera kusentuh pinggiran mangkuk dengan maksud untuk menghangatkan tubuh, caraku ampuh. Aku dan Dewi lalu menghabiskan bakso kami sambil bercengkrama dan berbagi cerita. Temanku yang satu ini sangat terobsesi dengan mahasiswa pencinta alam.
            “Aku dulu anggota Mapala di Surabaya, Rong..”ujarnya dengan aksen Jawanya yang medok, namaku jadi berantakan dibuatnya. Aku mengangguk-angguk.
            Kami bergegas pulang. Hujan rintik-rintik membasahi kami saat kami meninggalkan Malino. Matahari hampir tenggelam saat kami tiba di waduk Bili-Bili. Tadinya berniat untuk masuk dan berfoto ria, tapi gerbang waduk telah ditutup. Kami menikmati waduk Bili-Bili dari luar saja, memperhatikan anak kecil yang sedang berenang, anak-anak muda yang sedang mencuci motor di tepi waduk dan anak-anak Mapala yang sedang bercengkrama di jembatan. Kami menyempatkan waktu untuk meregangkan otot-otot setelah lama di atas sepeda motor.
            “Ayo Rong, foto model dulu!”ujar Dewi yang telah siap dengan kameranya. Aku langsung mengambil tempat di atas undakan batu, Dewi menjepret bergaya ala fotografer handal.

            Setelah beberapa menit di waduk Bili-Bili, kamipun pulang bersama gerombolan anak Mapala dari Universitas Alaudin Makassar. Mereka menyapa kami dari sepeda motor dan seseorang menawarkan bunga Edelweiss padaku. Aku menerimanya dengan senang hati. Dewi memberikan nama akun Facebooknya saat seseorang diantara mereka memintanya. Aku hanya tertawa dan sempat memotret mereka. Kami bahkan tak sempat berkenalan sampai akhirnya mengucapkan salam perpisahan di persimpangan jalan memasuki kota Makassar.

4 komentar:

  1. awesome...

    wlau ga ikut..
    aq bisa mrasaknx...
    hmmmm...

    kpan2 ajak aq ya.. hehehe]

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you... :)

      boleh2....asal suka jln2 aja, pzti diajak

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan