Index Labels

GOLOKOE

. . 4 komentar:
Undakan batu dan pohon-pohon mengisi bukit kecil yang terjal. Sinar matahari memancar dari sela-sela dedaunan dan ranting, menyirami jalan setapak menuju puncak bukit yang sejuk. Ada derap-derap langkah sekelebat putih abu-abu, melangkah ringan pada siang hari yang cerah dilindungi dedaunan,ranting dan batang pohon. Untung saja,  setidaknya keringat yang bercucuran tidak sampai membuat mahluk-mahluk bahagia itu basah kuyup.
            Ujian baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Sembari menikmati rasa lega dan bebas setelah beberapa minggu yang menegangkan, segerombolan putih abu-abu memutuskan berjalan melawan panas terik, ingin teriakan rasa syukur dan harapan lulus pada puncak Golokoe. Ada patung Bunda Maria disana, yang selalu setia menunggu anak-anaknya datang berdoa kapan saja.
            “Hah, panas!”keluhku sampil menghapus peluh di dahi dengan punggung tanganku. Seseorang di sampingku hanya memandangku sebentar, dia yang terus berjalan di sampingku sejak dari sekolah tadi.
“Kau tidak merasa panas?” Tanyaku padanya.
“memang panas, tapi apa boleh buat?”jawabnya agak cuek. Aku hanya mengernyit kecil.
Ardi tiba-tiba berjalan di sampingku  dengan baju seragam yang digantung dipundaknya. Satu ide muncul di kepalaku, segera kusapa dia, “Ardy,  apa kau tidak memakai bajumu?”tanyaku segera.
 Ardi menggeleng, “tidak, kenapa?”
“Bisa kupinjam? Sumpah, ini panas sekali. Aku ingin menutup kepalaku.”mohonku. untungnya Ardi tidak keberatan dan segera memberikan baju seragamnya padaku. Kuraih baju yang agak kusam itu lalu menutup kepalaku.
thank you!” ucapku manis. Ardi berlalu dengan senyum kecil, mendahului aku dan Dio yang hanya bisa tersipu malu saat tatapan Ardi seperti sedang menggoda kami. Rasanya lega saat wajahku berlindung di balik baju seragam Ardi, cahaya matahari tidak langsung menusuk di mukaku, adem. Aku terus melangkah, masih bersama Dio yang setia di sampingku. Ada rasa canggung dan juga malu untuk menatapnya saat kami bercakap-cakap. Yang kubisa hanya memperhatikan langkah kakinya, memperhatikan sepatu kets hitamnya dan celana panjang abu-abunya.
“kau mau bergabung bersamaku?”Tanyaku seraya memberi kode dengan mengacungkan ujung baju seragam Ardi padanya, dia tampak berpikir sebentar hingga akhirnya memutuskan menarik ujung baju yang tadi kupegang dan berlindung dibawahnya. Jantungku berdegup kencang, kami jadi terlihat seperti sepasang pengantin yang mau dinikahkan oleh penghulu. Kepalaku dan kepalanya bertemu, jantungku serasa hampir lepas. Mudah-mudahan dia tidak tau betapa gugupnya aku saat ini. Kami lalu berjalan beriringan, beberapa teman berdeham kecil dan tertawa saat melihat kami berdua, malu sekali rasanya, tapi momen ini kunikmati walau sedikit merasa risih.
Udara mulai terasa sejuk saat kami melangkah di tengah bukit, kulepas baju seragam dari kepalaku lalu melipatnya.
“sudah tidak panas lagi.” Ujarku pada Dio, dia diam saja. Kami melangkah dalam diam untuk beberapa menit, aku kebingungan mencari bahan bicara. Rasa gugup membuat otakku buntu,sialnya ini!
            “Jadi kuliah di Jogja?” Tanya Dio tiba-tiba. Beberapa detik aku tersentak, tidak menyangka Dio akan bicara.
            “Emmm… belum pasti. Orang tuaku belum memberiku jawaban pasti.” Jawabku agak malu.
Dio mengangguk mengerti, kemudian memperhatikan dahan-dahan yang bergerak ditiup angin. Aku mengikuti arah matanya, tidak ada yang menarik dengan dahan-dahan itu, tapi kenapa dia mau melihatnya?? Kesal! Padahal masih ada aku disampingnya yang cukup menarik untuk dia lihat, hu!
            Puncak Golokoe sudah terlihat, beberapa teman sudah mendahului kami sejak tadi. Ada yang sedang menyalakan lilin di sekitar gua Maria dan ada juga yang asik mengobrol di undakan batu. Aku segera bergabung bersama Elis,Carol dan Riana, mereka bertiga teman sekelasku. Dio pergi bersama teman-temannya yang lain.
            “Kenapa kalian pisah?”Tanya Elis saat aku duduk di sampingnya.
            “Masa mau sama-sama terus?” jawabku sewot. Elis, Carol dan Riana cekikikan.
            “Yah, namanya pasangan baru lah…”sambung Carol. Aku mendengus kecil, kulirik sebentar Dio yang sedang bercengkrama bersama teman-temannya.
            “Pasangan apa? jadian saja belum!” jawabku. Mereka tertawa lagi. Hhhh…. Kena! Giliran aku yang dijahili.

            Kami duduk berjejer di depan gua yang diterangi lilin-lilin kecil. Patung Bunda Maria berdiri dengan manis di singgasananya. Aku duduk di samping Dio yang tampak tenang d tempatnya. Aku….. gugup. Mudah-mudahan tidak ada yang salah dengan diriku, mudah-mudahan tidak ada yang aneh dan ganjil dari penampilanku. Hhhh…. Aku gerogi.
            “Siapa yang akan memimpin doa?” Tanya Rian. Teman-teman saling menunjuk, yang lain menanggapi sambil berkelakar, tidak ada yang unjuk tangan.
            “Kita berdoa sendiri-sendiri saja!” saranku. Rian berpikir sebentar kamudian mengangguk.
            “Ok. Itu lebih baik. Daripada doa kita berantakan karena ada yang tertawa.” Jawab Rian yang kemudian tertawa kecil, semua setuju kemudian berpencar dan mengambil tempat yang nyaman baginya untuk berdoa. Aku memilih di sudut kanan Patung Bunda Maria. Menunduk kemudian berdoa. Aku merenung dalam doaku, mengucap syukur untuk ujian yang telah kulewati dan memohon berkat untuk semua usahaku selama ini, mudah-mudahan lulus. Setelah menutup doaku dengan tanda salib, aku melirik pada Dio yang masih tertunduk dan diam dalam doanya, apa yang dia doakan?
            Matahari tinggi sekali saat kami semua memutuskan untuk pulang. Dio pulang bersamaku, memegang tanganku menuruni undakan tangga bukit Golokoe. Aku menikmati genggamannya. Bahagia sekali berjalan lagi di sampingnya, rasa panas karena terik matahari yang dahsyat tak menggangguku sama sekali, Dio membuat semuanya terasa baik dan indah.
 Aku, Dio, Riana, Nona dan Riko memilih pulang belakangan. Entah apa yang dibisikan Riko dan Nona saat mereka menyuruh aku dan Dio berjalan duluan, Riana bersenandung kecil di depan kami sambil mengetik sms, dia tau tidak? Apa mereka merencanakan sesuatu? Aku menahan kecurigaanku dan terus melangkah di samping Dio. Dio tampak tenang-tenang saja dengan tingkah Riko dan Nona yang aneh dan mencurigakan. Hal itu membuatku agak kesal.
“Ve, Dio! Tunggu!” aku berbalik dengan agak malas ketika Riko menyahut di belakangku. Riana segera berlari kecil menuju Riko dan Nona.  Di tengah jalan raya yang panas dia menyuruh kami berdiri membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan, aku masih di samping Dio.
“Ok, kita sudah selesai Ujian Nasional,” Riko memulai pidatonya, “Nah, saatnya kita saling menyampaikan perasaan kita.” Aku mulai curiga, jantungku berdegup kencang, perasaanku campur aduk antara gugup, bingung dan bahagia.
“Aku yang pertama yah!” ujar Riko lagi, “Aku sayang sama Nona. Sayang sekali.”Riko merangkul Nona lalu mengecup keningnya. Kami yang lain sempat terkejut lalu tertawa. Nona tersipu malu, roman mukanya langsung merah.
“Nah, sekarang giliranmu Dio!” Dio tampak kaget saat Riko tiba-tiba menantangnya.
“Apa maksudmu Riko?” Dio tampak salah tingkah dan malu.
“Ungkapkan perasaanmu Dio, sekarang juga!” desak Riko.
Dio menarik nafas lalu berdeham. Ia diam sebentar lalu berbalik ke arahku.
            “Emm… Ve…”
Aku kebingungan.
            “I love you” kurasakan genggaman Dio semakin erat saat mengucapkan itu. Aku hanya bisa tersipu malu. Riana, Riko dan Nona bersorak senang sambil bertepuk tangan. Aku tak berani melihat wajah Dio.
            “Mantap!”puji Riko pada Dio. Wajah Dio sumringah dan memerah, dia belum melepas tanganku hingga kami melangkah pergi meninggalkan bukit Golokoe.
Aku berbalik sebentar memandang bukit kecil itu, sang saksi bisu. Akan kuingat selalu..
            Bukit Golokoe…
            Di tengah jalan raya…
            Bersama panasnya terik matahari…
Peluh-peluh kita jatuh…. Membuang lelah, membuang beban ujian, melepas SMA dan memulai cerita kita…………….. 21 April 2011.



                                                                                    Special to:
                                                                                                Claudious Darma Semain



           



4 komentar:

  1. aq meraaskan getarannya....
    hahahah....


    thx...
    ceritamu mengundang senyum kecilku berekspresi di tengah kegalauanku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe....


      tdk aku sngka tulisanku menggugahmu.
      Makasih yah pena misterius

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan