Index Labels

Ketika Budaya Berbeda Bertemu

. . Tidak ada komentar:

Saya mengenal beberapa karakter akhir-akhir ini. Karakter manusia yang berbeda-beda karena pengaruh budaya. Dari sini saya pelajari, mencoba telusuri lebih dalam sifat manusia yang tentunya ada pada diri saya tapi tidak saya sadarinya. Saya juga belajar tentang cara berpikir setiap orang yang pastinya tidak selalu sesuai dengan cara berpikir saya sendiri, kadang apa yang mereka pahami-tidak saya pahami dan begitupun sebaliknya. Dan semua ini ada hubungannya dengan kebiasaan dan budaya.
Dari sini saya mulai menemukan sedikit jawaban, yah walau belum pasti….
Add caption
Kadang-kadang, orang salah menafsirkan segala kata dan tingkah yang dilakukan orang lain, mereka mengartikan semua itu dengan persepsi sendiri dan tanpa mencoba mengkeritisi apa dibalik semua tingkah ataupun kata orang tersebut. Misalkan saja, ketika seorang pemilik rumah berbicara dengan keras dan seperti berteriak-teriak, tamunya menduga orang itu sedang marah dan tidak menyukai kehadiran mereka lalu mencoba mencari celah untuk mengusir mereka dengan cara tidak langsung, padahal sesungguhnya pemilik rumah itu hanya sedang ingin berteriak dan bisa saja memang itu kebiasaannya. Atau saat pemilik rumah membersihkan lantai yang sedang diduduki oleh tamunya, tamunya merasa tindakan pemilik rumah sangat tidak sopan, padahal maksud si pemilik rumah hanya agar tamunya bisa duduk dengan nyaman di tempat yang bersih.
Dari contoh sederhana di atas, saya mulai memahami suatu paham bahwa perbedaan budaya mampu menimbulkan masalah. Antara pemilik rumah dan tamunya punya pemahaman masing-masing, berasal dari kebiasaan dan budaya yang berbeda. Lalu bagaimana untuk mempertemukan keduanya? Menyesuaikan pada si pemilik rumah yang memang hanya ingin menyediakan tempat yang nyaman dan bersih bagi tamunya atau si tamu yang menjadi tersinggung karena merasa tindakan si pemilik rumah kurang sopan. Keduanya sama-sama merasa bahwa apa yang mereka pahami benar.
Setiap orang memiliki karakter yang berbeda karena dibentuk oleh budaya yang berbeda pula. Karena itu tata krama ataupun aturan dalam kehidupan masyarakatpun berbeda, dan tidak sedikit yang saling bertentangan. Lalu, apa ada tolak ukur yang pas untuk menyatakan sikap atau tata kerama yang “ini” atau yang “itu”lah yang tepat, sehingga ketika dua budaya yang berbeda bertemu dan bertentangan bisa berkomunikasi tanpa ada masalah karena persoalan perbedaan paham dan kebiasaan?
Inilah yang selalu menjadi pertanyaan saya ketika saya mengalaminya. Apa yang menjadi tolak ukurnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan