Index Labels

feature

. . Tidak ada komentar:

feature
Berhenti Sekolah, Si Kecil Menjaja Koran
Oleh: Apolonia Ineru Bahali

                Jalanan tampak ramai dengan kendaraan umum yang berlalu-lalang di sepanjang Jalan Hartasing Lama, Makassar. Tidak hanya kendaraan tapi juga para pejalan kaki yang mondar-mandir di trotoar dan beberapa yang menyeberang jalan. Jika sekilas diperhatikan, bukan hanya kendaraan  dan pejalan kaki yang mondar-mandir di sekitar jalan itu, tapi juga segelintir anak kecil yang terduduk diam memperhatikan jalanan dengan tumpukan koran lokal yang bertengger manis di pangkuannya.
                Terik matahari siang yang cukup menyengat tidak menghentikan seorang gadis kecil bersama sepupu laki-lakinya menjajakan koran di pinggiran Jalan Hartasing Lama. Fitri (13 tahun) dan Aldi (11 tahun) tampak sangat girang saat seorang bapak memanggil mereka untuk membeli koran. Aldi langsung mengambil tumpukan korannya dan menawarkannya pada si bapa, “ tiga ribu ji, pa” katanya. Si Bapa lalu mengambil uang Rp 10.000,- dari dompetnya dan diberikannya pada Aldi. Fitri sebagai ‘bendahara’ mengeluarkan uang kembalian dari sakunya lalu menyerahkannya pada si  Bapa dengan sopan. Si Bapa kemudian berlalu bersama koran yang sudah dibelinya. Aldi langsung mendekati Fitri dengan wajah sumringah, tampaknya senang sekali karena satu korannya lagi sudah terjual.
 Photo-0281.jpgPhoto-0283.jpg         
                Fitri  harus berhenti sekolah setelah selesai di tingkat SD, dia tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMP karena biaya, “nda bisa ki lagi sekolah, nda punya uang k’ untuk beli buku dan baju”, katanya sambil merapikan rambut merahnya yang kusut dan kotor. Aldi mengiyakan kata-kata sepupunya dengan mengangguk sambil menunduk malu. Mata kanannya memerah karena debu, dengan polos dia juga menjawab “nda bisa ki sekolah karena nakal k’”ujarnya sambil cengengesan, Fitri tertawa menanggapi pengakuan sepupunya itu. Saat ditanya lagi “ tapi kan ada sekolah gratis de’!” tanpa pikir panjang Fitri menjawab lagi “ memang gratis k’, tapi buku dan bajunya tetap ji dibeli”. Mendengar jawaban dan kata-katanya, bisa dipastikan dia anak yang cukup cerdas tapi sayangnya  sangat tidak beruntung. Ayah Fitri hanya seorang sopir mobil pick up dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan Aldi hanya anak seorang sopir angkutan umum dan ibunya TKW di Malaysia. Mereka berdua terpaksa menjual koran di jalan.
Pemandangan ini dianggap biasa di kota Makassar, selain Fitri dan Aldi masih banyak anak kecil yang tidak sekolah dan berhamburan di jalan raya untuk bekerja. Mereka turut mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, padahal seharusnya anak- anak di bawah umur seperti mereka bergabung dan belajar bersama anak-anak lain di sekolah. Menikmati kehidupan mereka tanpa beban dengan bermain sebebas-bebasnya dan menikmati pendidikan.
Banyak  yang menutup mata dari realita ini, segelintir orang menganggap fenomena ini adalah hal yang biasa dan tidak perlu dibicarakan. Beberapanya lagi merasa telah membantu karena katanya sudah ada program sekolah gratis bagi mereka. Tapi sayangnya itu tidak cukup, anak-anak tersebut juga butuh baju seragam, sepatu dan buku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan