Index Labels

CERITA JAM WEKER

. . Tidak ada komentar:

                 Aku selalu di sini, di meja ini. Sahabat yang paling dekat denganku adalah lampu tidur yang setiap saat berdiri di sampingku, dia lebih tua dariku, tapi dia tampak sangat berkilau.
Setiap saat aku cerita padanya, cerita tentang tuanku yang menyuruhku membangunkannya pada jam tertentu, cerita tentang bagaimana aku harus mendapat umpatan dan makian sadis tuanku saat aku meembangunkannya dan bercerita tentang betapa pemalasnya tuanku itu. Tuanku itu tak pernah tepat waktu.
He..he..he, kadang aku suka tertawa sendiri melihat tingkah tuanku yang menyetel jarum merah pada tubuhku pada angka-angka tertentu, paling besok ia akan membantingku ke tempat sampah di bawah meja pada saat aku mencoba membangunkannya, dan tanpa lupa mengumpat, “Akh, weker bodoh! Aku masihh ngantuk!” lalu kembali menarik selimutnya dan mendengkur lagi. Aneh kan?! Aku selalu tak mengerti dengan jalan pikiran tuanku itu, apakah dia tak pernah berpikir betapa bodohnya dia, betapa plin-plannya dia. Dia yang menyuruhku membangunkannya, tapi malah memarahiku  saat aku telah membangunkannya. Dasar pemalas!
                Kadang-kadang dia sangat baik dan lemah lembut. Suatu sore, kulihat tuanku berjalan pelan masuk ke kamar sambil bersenandung riang, tangannya memegang kain lap dan sapu, rambut panjangnya disanggul ke atas hingga tak ada sehelai rambutpun yang menyentuh muka dan tengkuknya. Wajahnya tampak ceria, ia menyungging senyum pada semua barang-baranng miliknya yang tergeletak di sekitar kamarnya lalu membersihkannya satu per satu. Mulai dari cermin rias, rak kosmetik, tempat buku, komik-komik, lampu tidur, dan juga aku tentunya. Aku ingat kata-kata saat membersihkan tubuhku.
                “Kau yang paling berjasa padaku. Kau akan menjadi benda yang paling berkilau di kamar ini!” ujarnya ceria sambil mengusap seluruh tubuhku dengan lap yang ada di tangan nya, lembut dan pelan. saat itu aku terenyuh, tidak kusangka tuanku sebaik itu. Dia terlihat cantik hari itu, bahkan kesan nenek sihirnya tak terlihat lagi.
                Tapi… ternyta baiknya cuma sebentar. Paginya,aku membangunkannya dengan ceria sesuai dengan waktu yang ditetapkannya pada malam hari. Bukannya berterima kasih, ia malah menghantam-hantam diriku lalu melemparku ke tempat sampah. Tapi, syukurnya, teman-teman kertas yang using menopangku sehingga tubuhku tidak rusak dan lecet.
                “Kau disalahkan lagi?” tanya kertas, iba.
                “Begitulah.” Jawabku pasrah.
                “Tuan kita itu pemalas dan pemboros sekali. Kau lihat! Teman-temanku harus dibuang di sini padahal belum digunakan. Tadi malam, hanya karena dia salah menulis satu kata saja ia langsung mengoyak-ngoyak tubuhku lalu membuangku di sini, padahal aku masih bisa digunakan untuk keperluan lain.”komentar kertas dengan nada sedih.
                “Aku juga. Semalam tanpa sengaja tuan menginjak tubuhku hingga kacaku pecah. Karena aku sudah rusak, dia langsung membuang aku di sini, padahal tintaku masih banyak dan masih bisa digunskan.”sambung pena yang terkulai malas ditimbun kertas-kertas.
                “Setelah ini kita pasti akan dibuang di tempat yang lebih menyedihkan dari ini lalu dibakar dan menjadi abu”sahut kertas pilu.
                Aku jadi berpikir mendengar keluhan kertas dan pena, sejahat itukah tuanku?
                Aku bekerja setiap saat , memindahkan kedua jarumku ke setiap sudut tubuhku dari pagi sampai malam, kemudian pagi lagi dan sampai malam lagi, tak pernah berhenti, selalu begitu. Tuanku tak begitu menghiraukanku, kadang-kadang saja ia melirikku untuk mengetahui waktu, tapi ia tak pernah menggunakan waktu dengan baik, aku jadi berpikir, kenapa dia begitu menyia-nyiakan waktu, padahal waktu itu sangat penting.
                Suatu hari, aku pernah mendengar tuanku mengeluh dann marah-marah. Entah kepada siapa dan kenapa, tapi aku mendengar jelas kata-kata yang diucapkannya waktu itu dengan seguk-segukan.
                “Pak Rat jahat! Aku disiksanya hanya karena terlambat. Padahal aku terlambat beberapa menit saja!” umpatnya sambil memukul-mukul bantal. Kulihat bantal meringis menahan sakit.
                Pernah juga sekali, ia masuk ke kamar dengan wajah kecewa dan sedikit aku mendengarnya meengumpat.
                “Akh, aku ketinggalan bis lagi!”setalah itu ia langsung merebahkan tubuhnya kemudian tertidur pulas.
Aku heran pada tuanku itu, ada banyak hal yang ditinggalkannya, tapi ia tak pernah mencoba berubah. Ia aneh, salahnya sendiri tapi masih menyalahhkan, apa saja disalahkan padahal kalau dia tidak malas dan boros, dia pasti tidak akan kesulitan. Tapi begitulah tuanku.
                Malam ini, seperti biasa sebelum tidur, tuanku menetapkan waktu untuk esok pagi, jarum merah di tubuhku mengarah pada angka lima , berarti aku harus membangunkannya pukul lima esok hari.
                “Lampu, giliranmu!”bisikku pada lampu yang telah bersiap-siap mengeluarkan cahayanya tepat saat tuanku menekan tombol pada kakinya. Setelah itu tuanku menuju ranjang dan tidur. Setelah mendengar dengkurannya, aku langsung memulai acara gosipku.
                “Lampu, kau lihat! Tuan kita pemalas sekali yah.”ujarku
                “Iya, seharusnya cahayaku belum kukeluarkan pada jam begini!” keluh lampu.
                “Coba kau lihat teman kita cermin!” pintah lampu.
Aku  langsung melihat cermin  yang kini terlihat kacau-balau, permukaannya telah pecah karena terlempar sesuatu.
                “Ada apa denganmu cermin?” tanyaku iba.
                “Entahlah. Tadi tuan melempar ku menggunakan handphonenya. Nasibku masih lebih baik, coba kau lihat handphone! Keadannya sudah sangat  sekarat!” jawab cermin. Aku melihat handphone yang tergeletak di lantai dengan tidak berdaya. Keadaannya sudah sangat tidak jelas lagi.
                “Aku tidak mengerti dengan tuan kita. Ia melampiaskan emosinya padaku, padahal aku sudah bekerja dengan baik sesuai kehendaknya. Sedih sekali, aku sudah tak bisa digunakan lagi.”
                “Dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli barang-barangnya, tapi dengan mudah sekali menghancurkan semuanya” sambung cermin.
                “Itu tak ada artinya baginya, mungkin jika semuanya hilang dan ia tak mempunyai apa-apa lagi baru dia sadar dan menyesal”lanjut lampu sinis.
                Gelap semakin berlalu, aku terus bekerja mednghitung detik dengan tepat hingga menjadi menit, kemudian menghitung menit demi menit dan menjadi jam, hingga akhirnya pukul lima, aku harus membangunkan tuanku.
                “Akhhh!” tuanku menggeram lagi.
                Aku melihat tangannya menuju diriku, ia berhasil menemukanku. Aku tau apa yang akan dilakukannya padaku, dengan geram tuanku melemparku ke tembok yang kokoh. Tubuhku terpecah-belah, ketiga jarumku entah ada dimana.
                Aku melirik lampu yang ternyata masuh memandangku dengan iba.
                “Hari ini nasibmu teragis sekali.” Ujar lampu kasihan padaku. Aku kembali melirik tuanku yang telah kembali dalam selimut tebalnya.
                “Dia tidur lagi kan?!” tanyaku pada lampu getir.
                “Begitulaj. Seharusnya energiku tidak dipakai lagi pada jam begini.”
Aku tau apa yang kupikirkan sama juga dengan yang dipkirkan lampu.
                “Begitulsh tuan kami!”
                                                  The end.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan