Index Labels

SALLY

. . Tidak ada komentar:

CERPEN

                                                                               SALLY

                Sally memandang tirai jendelanya yang belum terbuka, tampak di luar belum ada cahaya setitikpun, masih gelap. Dipejamnya mata yang sudah tak lelah lagi lalu menghela napas pelan.
                “Kumohon, hilanglah!” gumamnya pelan.
Ada sesuatu yang ingin dilupakannya, ada sesuatu yang ingin segera dibuangnya. Sesuatu yang ternyata sulit tuk dihapusnya, sesuatu yang terus merana dalam hatinya, sesuatu yang sampai saat ini masih tersangkut di kerongkongannya, tanpa sempat tuk mengucapkannya, sesuatu yang ingin dilupakannya walau hatinya tak rela dan sesuatu yang dibencinya tapi tak bisa dimusnahkannya.
Sally mengubah arah tidurnya, kini ia berhadapan dengan meja kecil di samping tempat tidurnya. Bingkai kecil itu menyimpan wajah ceria yang manis dengan senyum merekah di bibirnya. Tom… orang yang selama ini telah membuatnya tersiksa…

                                                                         ……………………….

                “Sally, berusahalah! Aku akan selalu mendukungmu!” wajah Tom tampak bersemangat dan sungguh-sungguh. Sally tersenyum lalu meraih gitarnya dari genggaman Tom yang kokoh.
                “Ehm, makasih kucing nakal.” Ujar Sally lalu naik ke panggung bersama teman-teman se-band lainnya.
Tom member kode dengan jari jempolnya , Sally mengangguk sambil tersenyum lalu memetik gitarnya dengan perlahan. Gebukan bas drum ikut mengalun pelan, menimbulkan nada klasik yang mengalun dan semakin cepat. Music tiba-tiba memecah dengan kompak, alunan rock yang tajam dan sempurna mampu memekakkan telinga. Semua penonton menikmatinya dan bergerak liar di halaman, menikmati dan meresapi alunan music yang panas dan dahsyat. Yotu sang vokalis mulai mengeluarkan suaranya yang serakk dengan garang dan berani, semua personil ikut larut dan beraksi dengan gaya masing-masing. Sallypun tak mau kalah, tanpa enggan ia mengibas-ngibas rambut sebahunya yang tergerai bebas. Tom tertawa tak tahan melihat aksi sahabatnya itu.
                “Sally, gila yah?” teriak Tom, Sally cuek saja

                “Kau berhasil!” ujar Tom sambil membantu Sally turun dari panggung.
Pertunjukan dari band mereka baru saja berakhir, Sally tampak kelelahan.
                “Huh, kupikir aku akan gagal lagi! Ahk, jari-jariku perih semua,” desah Sally sambil meniup-niup ujung jari kirinya.
Tom tersenyum. Mereka lalu melangkah beriringan keluar dari lapangan yang dipenuhi oleh penonton.
                “Hati-hati! Banyak cowok usil yang suka mencari kesempatan di balik kesempitan,” bisik Tom di telinga Sally. Sally mengangguk polos lalu mempererat genggamannya dengan genggaman Tom.
                “Sally, tanganmu hangat,”  goda Tom mesra. Sally jadi geli lalu melepaskan genggamannya.
                “Kau sudah gila? Teman sendiri digombali. Kukutuk jadi monyet baru tau rasa,” umpat Sally berpura-pura marah, Tom dapat melihat wajahnya merona merah.
                “Yah sudah. Sini tanganmu! Bercandanya sebentar saja.”
                “Ye… yang duluan kan kamu. Dasar curang,”
Sally kkembali menggenggamm tangan Tom dengan pasrah, Tom akan berpura-pura tidak peduli dengan segala protes yang dilontarkan Sally, jadi jika ingin protes hal itu sama saja dengan membuang  waktu, Tom tidak akan peduli.
Mereka lalu melewati akhirnya terlepas dari para penonton yang berdesak-desakan ketika akhirrnya sampai di pinggir jalan yang sepi dan tidak gerah.
                “Ah, rasanya lega. Panas sekali yah!”sahut Sally sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangannya yang bebas.
Tom mendesah panjang lalu duduk di salah satu batu taman yang lumayan besar.
                “Sally duduk dulu!” pintah Tom sambil membersihkan permukaan batu lain yang ada di sebelahnya, maksudnya supaya Sally bisa menempatinya. Sally menurut lalu duduk di sebelah sahabatnya itu.
Sesaat mereka diam, membiarkan suasana menjadi hening di antara mereka, yang terdengar hanyalah alunan musik dari tempat konser di kejauhan.
                “Tebak! Band apa yang sedang tampil sekarang?” tanya Tom tiba-tiba.
Sally mendengar dengan seksama sambil berpikir-pikir hendak menebak.
                “Passive band.”
                “Passive band beraliran rock, dodol.”
                “Ehm…, The Goster.” Sally mencoba menebak lagi.
                “Parah, salah lagi Pepi” Sally jadi dongkol mendengar semua julukan yang dilontarkan untuknya.
                “Entahlah, aku menyerah.”
Tom cekikikan sammbil memegang perut.
                “Kau kurang peka, coba lebih teliti, band apa itu ?” pintah Tom tak menyerah.
Sally mendengar lebih saksama aluunan musik itu di kejauhan.
                “Kalau tidak sallah……..”
                “Berarti benar monyong.” Potong Tom tak sambung, Sally jadi kesal, tapi kembali berpikir. Tom menanti dengan tak sabar.
                “Oh iya, The Shining kannnnnn?!” ujar Sally ceria, Tom mengangguk sambil tersenyum puas.
                “Akhirnya. Dasar nenek, band favoritnya saja lupa. Dasar pikun!” umpat Tom hendak memanasi Sally yang tersenyum-senyum sendiri. Senyum Sally langsung buyar, ia memandang Tom dengan kesal bercampur gemas, Tom malah tertawa cekikikan tak karuan, menambah kesal saja.
                “Kau pikir aku sudah tua? Tujuh belas tahun saja belum,” protes Sally. Tom masih cekikikan. Sally mskin dongkol, dengan tak sabar ia mengeluarkan tas gitar dai gendongannya. Belum sempat ia menjitak kepala Tom, Tom sudah berlari menghindar sambil tertawa keras, mengumpan kesal.
                “Dasar pengecut! Jangan lari jelek!” umpat Sally.
Tom terus berlari menghindari tinju Sally.
                “Kalau aku dapat, akan kujadikan soto!” ancam Sally sambil menunjuk kepalan tangannya pada Tom.
Tom menghindar sampai keluar ke jalan raya yang masih tampak lengang, Sally ikut keluar jalan berusaha mendapat Tom yang sulit dikejarnya.
Cahaya dari belakang Tom menyilaukan mata Sally, kejadian itu sangat cepat sebelum Sally dan Tom sempat menyadari dan mencegahnya.
PRAAAKKKK,
Tuikk,
Tuikk,
Tuikk,
Dunia serasa berhenti berputar.


                                                                                     ……………………….           

                Kenapa harus ada malam itu? Kenapa harus ada sopir ceroboh yang mabuk dan seenaknya saja waktu itu?
Sally memejamkan matanya, membiarkan air matanya tumpah semua. Tak bisa dilupakan, kejadian itu membuat hatinya perih. Sally hanya bisa menyalahkan, termaksud dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Sally tak bisa mmenghindari bayangn Tom yang terkapar tak sadar dan bersimbah darah. Hal itu selalu menghantui pikirannya dan berkali-kali masuk dalam mimpinya.
                “Tom…” gumamnya pedih sambil meremas bantal peluknya. Air mata mengalir tak tertahankan. Masa lalu mereka terngiang kembali dalam ingatannya, ingin diusirnya baying-bayang itu, tapi….tak rela.
                “Jelek!”
                “Tomboi, manja!”
dulu mereka selalu tertawa bersama sambil sesekali saling mengejek, Tom kadang berpura-pura merajuk  jika Sally berhasil menjitak kepalanya dan kabur. Dan Sally dengan manja merengek-rengek minta cokelat padanya kalau Tom dari kantin sambil menyembunyikan cokelat di belakang pundaknya. Sally tersenyum kecil sambil menangis mengingat semua itu. Ia ingin semua itu terulang lagi walau cuma sekali, tapi kenyataan tak bisa diubah, ia hanya bisa menerima takdir yang menimpanya dan juga Tom.
Sally tak bisa lagi menghentikan air matanya, mendengar kabar bahwa Tom sudah tak punya harapan lagi. Beberapa hari yang lalu Sally mendengar kabar tentang Tom, keadaannya semakin parah dan kondisinya juga semakin lemah, dokter profesionalpun sudah menyerah, Tom tak bisa diselamatkan lagi. Hal ini membuat hati Sally semakin perih, jika bisa….ia ingin menggantikan tempat Tom saat ini, ia tak bisa menerima kenyataan akan kehilangan Tom.
                Sudah empat bulan Tom koma sejak kecelakaan itu, tengkoraknya retak, tulang tanan dan kaki patah, begitu pula dengan tulang lehernya, dan ia juga mengalami gegar otak yang sangat parah. Rumah sakit demi rumah sakit dan operasi demi operasipun telah dilaluinya, tapi keadaan Tom tetap tidak berubah, memburuk malah. Beberapa saraf di tubuhnya sudah tidak dapat bekerja lagi, bahkan telah mati.
                Sekarang ini dia sedang menjalankan perawatan di salah satu rumah sakit di Siingapura, tapi hasilnyapun sama saja. Dengan takut Sally berfirasat di sanalah rumah sakit terakhir Tom dirawat. Yang semakin membuatnya sedih, ia tak bisa menemani Tom lagi, ia tak bisa menjaga Tom yang  terbaring lemah dengan selang-selang dan perban di tubuhnya. Membayangkan itu membuat tubuhnya gemetar.
                “Tom….”
Sally mencoba tenang.
                “Tom…, biarkkan aku tidur dulu mala ini! Aku lelah….”

                                                                                …………………. 

                “Sally, kau semakin kurus.” Ujar Bunda dengan khawatir.
Sally diam saja, dikuunyahnya roti lapis dengan tidak bergairah. Setiap kali mengingat hal-hal yang berkaitan dengan Tom membuatnya ingin menangis.
Bunda memperhatikan putrinya yang semakin pucat, terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya, matanya semakin cekung. Ia tampak kurus dan tidak sehat. Sally yang ceria dan semangat kini tak ada lagi.
                “Sally, ke dokter yah!”bujuk bunda lembut.
Sally menggeleng lalu meneguk susunya sedikit.
                “Aku tidak sakit, bunda!”
Bunda jadi sedih melihat putrinya, dengan pelan diusapnya pundak Sally, berusaha menenangkannya.
                “Ini karena Tom?” tanya bunda pelan.
Sally berusaha tidak memandang mata bunda, lama-lama pandangannya mengabur, semakin tak jelas terhalang oleh air matanya.
                “Sayang, jangan disimpan sendiri! Cerita pada bunda!”
Sally tak bisa tahan lagi, ia langsung berhambur ke dalam pelukan bunda lalu menangis sejadi-jadi dengan segala kesedihan yang bergejolak dalam dadanya yang terasa perih.
                “Sa..lly, cin…ta Tom, bundaaaa…”aku Sally dengan seguk-segukkan.
Bunda mempererat pelukannya, Sally belum bisa tenang, wajahnya telah basah oleh air mata.
                “Sally…..belum sem..pat bilang sama… Tooom.. bunda…!”
Bunda bisa merasakan kesedihan putrinya, ia ikut terisak. Memeluk erat putrinya hendak menyerap kesedihan dan segala hal yang membebani putrinya.
                “Sally suka…sama Tom, lebih dari sekedar sahabat!”

                                                                                ……..……………..

                Menyimpan dan memendamnya sendiri memang menyengsarakan. Tapi untuk mengungkapkannya butuh keberanian dan kekuatan yang besar. Mengambil resiko atau bertahan tanpa rasa lega. Dilema tersebutlah yang membuat Sally memendam perasaannya selama ini, Sally mencoba bertahan dalam waktu yang cukup lama. Sally tidak berani mengatakannya, takut Tom menganggapnya berkhianat dan membohongonya, takut Tom menghindarinya dan tidak mau dekat lagi dengannya, bahkan yang lebih ditakutinya kalau Tom sampai membencinya.  Tapi sampai kapan disimpan? Kini. Tinggal sebentar saja Tom tinggal bersamanya. Tidak ada gunanya menyampaikannya pada saat Tom sudah tidak berdaya seperti sekarang ini. Sally menyesal telah memendamnya, hati dan jiwanya tersiksa
                “Sally, ibu Tom mau bicara padamu” kata bunda.
Pagi itu, Sally sudah bersiap ke sekolah, ketika tiba-tiba ibu Tom menelpon. Jantung sally tiba-tiba berdebar cepat, ada rasa takut, khawatir dan juga sedih.
                “Halo”
                “Sally, tolong….i…bu..” Ibu Tom terisak dari seberang, Sally hampir tak bisa mendengar suaranya.
                “Tanta tenang dulu” pintah Sally, walaupun sebenarnya ia juga mau menangis. Sesaat Ibu Tom hening seperti hendak menenangkan diri
                “Kenapa tanta? Ada apa dengan Tom?” Sally membuka kembali percakapan, ia berusaha agar suaranya tetap tenang.
                “Datanglah ke sini sekarang”
                “Tapi tanta…..”
“Aku mohon  Sally! Tanta rasa Tom membutuhkanmu sekarang, Tom sekarat….” Sally terdiam, matanya berkaca-kaca, ibu Tom terisak lagi.
“Tadi malam dia menggumam namamu terus. Mungkin dia ingin kau di sini sekarang” Sally terpaku, air matanya pun jatuh. Dipandangnya bunda yang berdiri di sampingnya. Bunda mengangguk.
“Baik tanta hari ini saya akan ke Singapura”
Tut…tut….tut

                                                 …………………..

Tom tampak sangat pucat. Kepalanya masih diperban, baru-baru ini ia menjalankan operasi tengkorak. Sally memandang Tom dengan rasa rindu yang selama ini bergejolak dalam batinnya, dan kini terhapus sudah saat ia mampu melihat Tom di dunia nyata kagi.
“Sally, akhirnya kau datang!” sambut Ibu Tom. Ibu Yom memandang Sally dan bunda dengan lega. Matanya bengkak dan hamper tertutu, wajahnya keriput dan kusut. Tersirat, terlihat ia sangat tertekan.
“Bagaiman keadaan Tom?” tanya Bunda. Ibu Tom mampu menjawab, ia lalu menangis dalam pelukan bunda. Sally juga ingin dipeluuk saat ini , Sally ingin mengeluarkan kesedihan dalam hatinya, ingin mendapat ketenangan dalam pelukan lembut.
Tom masih koma, taukah Tom betapa Sallysangat tersiksa karenanya? Taukah Tom, Sally ingin sekali menggantikan tempatnya kalau seandainya hal itu bisa? Sally tidak tahan, sangat tidak tahan.
“Sa..Sally…” Tom tiba-tiba bergumam lirih.
Sally, ibu Tom dan bunda segera mendekati ranjang Tom. Jemari Tom bergerak kecil.
                “Sally!”
Sally tak bisa membendung air matanya lagi. Digenggamnya jemari Tom yang dingin.
                “Tom, ini Sally, Tom. Bangun!” ujur Sally di sela isak tangisnya.
Sesaat hening, Sally tak bisa menghentikan air matanya lagi. Ingin segera ia katakan, ingin segera ia curahkan segala rasa di dalam hatinya.
                “Tom, buka matamu! Lihat aku Tom! Please!” suara Sally terdengar sangat lirih.
Tiba-tiba, pelan sekali kelopak mata Tom bergerak terbuka, Sally menunggu dengan sabar.
                “Sally, Sa..lly!”mata Tom terbuka.
Hati Sally membuncah, ibu dan bunda kini tak ada lagi di sampingnya, entah kemana dan kapan tepatnya mereka pergi. Sally segera menarik sebuah kursi di dekatnya, lalu bergegas duduk.
                “Sally.” Tom memanggil lagi, matanya mencari-cari dengan tidak focus, hingga akhirnya ia dapat menemukan Sally. Tom mengulurkan tangan kanannya yang lemah pada Sally, Sally meraih tangan itu dan menggenggamnya halus lalu menempelkannya ke pipinya yang basah.
                “Tom, ini aku Sally!”ujar Sally terseguk-seguk.
Tom mengedipkan matanya dengan pelan dan lemah.
                “Sall..Sally!” hening sejenak, Sally menarik napas, menampung keberanian untuk segera mengatakannya.
                “Tom, aku…aku minta maaf…”
Tom mendesah lemah dan tersenyum.
“…aku cuma mau bilang kalau…”
“Sssttt…” Tom menekan bibir Sally dengan telunjuknya. Ia lalu membelai pipi Sally dengan jempolnya secara perlahan lalu mendesah pelan lagi.
“Aku yang duluan ngomong!... dengar aku ngomong  yah!”ucap Tom pelan.
Sally diam sejenak, dengan sekuat tenaga ia menahan tangis. Ia mau mendengar Tom bicara dengan segenap perasaan dan seluruh konsentrasi dari segenap jiwanya. Tom menatap mata Sally dengan pandangan sayu, ada arti dari tatapan itu, arti yang indah dan selalu menggetarkan jantungnya.
                “Sall….Sallly” tubuh Tom bergetar pelan, tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatakan satu kata saja cukup besar, ia memang sangat lemah. Sally menanti dengan sabar hingga Tom kembali membuka mulutnya.
                “Aku..aku cinta padamu, Sally! Aku… sayang sekali padamu!”
Air mata Tom mengalir pelan, dengan sekuat tenaga ia mencoba bangun dan mencium kening Sally lalu tersenyum.
                “Jangan meenangis lagi, yah!”
Sally tak dapat berkata apa-apa, ia terisak lega dalam tangan Tom, ada rasa bahagia dalam hatinya. Ia mencoba diam lalu berujar.
                “Aku juga cinta sama kamu, Tom. Cinta sekali.”

                                                                                     …………………..

                Satu minggu kemudian….
                Tiga hari yang lalu Tom dimakamkan. Sally tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, kali ini ia sangat tidak bisa memenuhi permintaan terakhir Tom. Tom telah meninggalkannya,, selamanya, dan tidak mengkin akan kembali lagi. Tapi…. ada satu hal indah dan abadi yang ditinggalkannya dan Sally akan selalu menyimpannya sampai nanti. Sampai kapanpun.

                              The end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan