Index Labels

Goresan 1

. . Tidak ada komentar:

GORESAN

         Detak-detak kaku terlewat pahit. Hantaman-hantaman berdentang bak lonceng yang memekakan. Hingga mentari berlalu berulang-ulang kali, ribuan kali telah lewat saling berganti dengan sang pekat yang kelam.
Tapi… nafas itu terus berembus tegas melewati segalanya. Terus menerjang melawan udara hampa yang buas dan menekan hingga ke sum-sum belulang. Perih…
Goresan-goresan itu mengeluarkan titik-titik darah, semakin lama membanjiri jiwa yang hampir redup.
            Jiwa itu kekasih jiwaku, sang pelaku utama dalam romansa hidupku yang mendayu dengan segala realita. Aku adalah salah satu saksi hembusannya. Hembusan hangat yang senantiasa membagi bersama paru-paruku yang masih terlalu dini dan lemah. Ibaratnya, membagi sebagian nyawanya pada jiwaku yang belum paham semua itu…
            “ Aku harus tabah! Kuat! “
Bertahun-tahun lamanya, belum kutau dan paham apa maksud ungkapannya itu. Lewat-lewat saja di telingaku.
Ehm…., tapi setelah cukup dewasa baru kusadari betapa besarnya pengaruh ungkapan itu bagi hidupku, hidupnya dan hidup kami semua. Ibaratnya lilin kecil yang berada sendirian di tengah kegelapan yang luas dan pekat.
            Yah, hari-hari telah kami lewati bersama. Setiap tatapannya mengandung begitu banyak arti, selalu memberi kekuatan besar yang berarti dan tulus. Semua itu berhasil mengalahkan segala kesakitan dan kepedihan. Berhasil luluhkan segala ego, amarah dan dendam. Kekuatan itu benar-benar kurasakan memenuhi lingkaran jiwaku. Apa itu? Itu seperti kapas putih yang bersih, tidak tergores oleh rasa benci, dendam dan jera. Ia tetap bersih dan utuh, sungguh.

                                                              ***

            “Fiuuuh!” aku terpaku mendengar desahannya yang kesekian kali. Kutatap novel di tanganku tanpa focus. Membolak-balik halamannya sambil menebak-nebak apa yang membuat ia resah kali ini. Ia gelisah, entahlah!
Kulipat halaman akhir yang kubaca lalu menutup novel favoritku itu. Lalu diam-diam memperhatikan wajahnya yang tengah duduk di hadapanku sambil melamun.
            “ Ma, kenapa?” tanyaku agak enggan. Ia mendesah lagi, sedikit bergeser hendak memperbaiki duduknya.
            “ Kau tidak usah tau!” jawabnya tanpa melihat padaku.
Aku langsung membungkam, kugenggam lebih erat novel di tangannya lalu membuka halaman yang tadi kulipat, kucoba untuk membacanya lagi. Percuma. Konsen otakku masih ingin berpusat pada mama yang membisu, aku penasaran.
            Aku beranjak berdiri, tak tega juga melihatnya begitu. Melihatnya begitu hanya membuat luka di hatiku terasa perih lagi. Rasa benci dan marah tiba-tiba memenuhi dadaku, pada siapa? Pada mama yang membisu kah ? atau pada diriku yang tak bisa apa-apa ?
            Aku melenggang ke kamarku, menarik kursi belajar dan mengambil pulpen. Kucoret-coret kertas usang yang tergeletak di meja. Mencoretnya sampai tanganku terasa lelah. Otakku berputar lagi, seperti film yang menampilkan adegan masa lalu dalam hidupku. Dialok masa lalu kembali terngiang dalam telingaku.
            “ Aku akan bertahan untuk mereka!”
Hatiku berbunga-bunga. Rasa hangat menjalar perlahan dalam dadaku. Ungkapan cinta yang sangat romantis, menggetarkan, membawaku ke langit ke tujuh yang indah. Takan bisa kulupa ungkapan itu.
Pandangan mata itu juga, bisa kurasakan kekuatan besar dari tatapan itu, mengitarinya.
Tapi, sontak hatiku perih lagi. Adegan lain tiba-tiba masuk dengan angkuhnya. Darahku langsung berdesir cepat, pacu jantungku makin laju, rasanya seperti terbakar. Hawa membunuh yang diselubungi amarah memenuhi pumbuluh darahku. Benci, benci, benci. Ingin rasanya aku memberontak sejadi-jadinya, berteriak dan memukul siapa saja. Ingin kuhakimi semua itu, menghantam semua semua kejanggalan, kesalahan dan kebencian. Mengapa semuanya diam ? ingin kubuang jauh-jauh adegan teragis yang menyakitkan itu dari pikiranku sebelum air mataku jatuh,tapi air mataku terlanjur tumph ruah, bukti bahwa aku lemah. Kupejamkan mataku rapat-rapat berusaha menghilangkan rasa sakit di dadaku. Aku tersentak saat melihat kertas usang di tanganku telah menggumpal teremas oleh jemariku yang tersentrom amarah. Aku menunduk, malu pada diriku sendiri, pada mama dan pada dunia. Begini lemahkah aku ?
Ini tak seberapa, salib yang kupanggul tak seberapa, sangat kecil malah. Tak sebanding dengan salibnya yang terlalu besar dan berat, dia melangkah dengan terseok-seok dan jatuh berulang kali, tapi dia tetap maju tanpa melihat jalan setapak yang berbatu yang telah dilewatinya. Melangkah pada Golgota yang megah, dimana dia bisa mengakhiri langkah sengsaranya dengan kemenangan dan sukacita. Seperti Yesus, yah Yesus !
            Kuamati wajah burukku di cermin, kusesali memelihara perasaan busuk ini, dendam hanya akan membuatku mati. Dendam hanya akan membuatku semakin terpuruk ke sudut. Mengapa tak kucontohi sang pujungga terbaikku ? yang selalu melantunkan syair indah dalam hidupnya yang pahit dan sakit. Aku menunduk lagi, hening...

                        Tuhan Yesus, sembuhkanlah kami.
                        Orang buta, orang congkak hati...

            Aku tersentak lagi. Oh, lagu yang manis. Kehangatan kembali menjalari dadaku. Dia berhasil berdiri lagi untuk keteriliunan kali.
            ‘ Yesus, hebatnya dia !’


                                                            By : Vera Bahali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan