Index Labels

Pelajaran Jam Terakhir

. . Tidak ada komentar:

         Ruangan kelas terasa pengap. Udara panas yang menanti hujan menggerahkan badan. Keringat bercucuran dan membasahi pakaian seragam sekolah siswa-siswi XI Bahasa 1. Ada yang tampak tak tenang di tempatnya, gelisah dan menguap-nguap sambil mengerjap-ngerjap pada Pak Fab yang masih memberi penjelasan tentang Possesive Pronomen, salah satu pokok bahasan dalam pelajaran Bahasa Jerman yang pada jam itu dipelajari. Semua bosan, malas, mengumpat kesal dan ingin segera pulang. Jelas rasa lapar sudah menyahut-nyahut dari perut penghuni kelas yang tampak jarang itu.
“Kapan habisnya, La?” Tanya Indra pada Kala. Kala tersenyum simpul, ada sedikit ringisan dalam senyum kecilnya itu.
“Tunggu saja, 24 jam lagi!”bisiknyaq menggoda. Indra langsung ambruk ke meja, kesal dan malas bercampur aduk menderanya, maunya jam di kantor sekolah diputar lebih cepat saja.
Pak Fab masih semangat member penjelasan, penggunaan dativ, nominative dan akussatif dirincikannya dengan penuh semangat. Suaranya tegas dan menghidupkan. Tapi, penghunin kelas yang sudah terlanjur terkantuk-kantuk merasa bahwa suara Pak Fab justru sangat mematikan, seolah mendera rasa kantuk yang tak tertahankan. Ada yang sampai manggut-manggut tak karuan, berpura-pura  mengikuti dan mengerti semua yang dijelaskan, ada yang menyumpah-nyumpah Pak Fab dalam hati. Kesal, benci, marah dan bosan. Waktu berputar sangat pelan.
Pak Fab tiba-tiba mengajukan pertanyaan, semua tampak tersentak kaget, kebingungan dan saling pandang. Andi yang duduk paling belakang diberi kesempatan untuk menjawab pertama.
“ Was für ein Text ist das?” Tanya Pak Fab
“Eh…..er..” Andi tergagap-gagap, matanya bergerak liar menjelajah ruangan kelas mencari pertolongan. Semua diam, tak ada yang bias membantu Andi. Pak Fab terlihat tak sabar.
“Apa jawabannya, Andi?” desak Pak Fab. Andi gugup, masih berharap mendapat pertolongan.
Pak Fab jadi kesal, dialihkannya pertanyaannya pada Tia, Andipun lega. Tia lebih parah lagi, dia tampak tersentak saat Pkak Fab menyebut namanya, mukanya langsung pucat pasi, gugup karena tak mengerti apa yang dikatakan Pak Fab.
                “Was für ein Text ist das, Tia?” ulang Pak Fab dengan sabar. Tia diam saja, semakin bingung. Apalagi ini? Menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia saja tak bias, apalagi untuk menjawabnya. Pak Fab semakin tak sabar, Tia yang diam saja membangkitkan amarah Pak Fab, wajah beliau memerah. Tia jadi ketakutan, kakinya gemetar.
                “WAS FÜR EIN TEXT IST DAS?????” ulang Pak Fab yang sudah tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Tia semakin ketakutan, kelihatan mau menangis.
                Pak Fab menyerah. Diam sesaat lalu memperhatikan murid-muridnya satu per satu. Menahan marah sepertinya. Murid-murid menunduk takut, masih ada yang berusaha menahan kantuk. Beliau membisu, diperhatikan murid-muridnya dalam diam.
Kala dan Indra berbisik pelan, Tia masih shock dan menahan tangis.
                “Kalian tidak suka pelajaran saya?” Tanya Pak Fab kecewa. Tak ada yang menjawa, semua menunduk karena merasa bersalah.
                “ Ayo jawab, siapa yang tidak suka dengan pelajaran saya?”
Semua tetap menunduk, tak berani buka suara. Kalau Pak Fab sampai marah begini bias repot urusannya. Pak Fab diam, beliau memperhatikan murid-muridnya lagi.
                Beliau akhirnya kembali ke mejanya, siswa-siswi merasa lega lagi saat Pak Fab mengambil buku teks Bahasa Jerman dan kapur di meja hendak memulai penjelasan lagi. Ia mulai mencatat di papan tulis. Para murid langsung berusaha memfokuskan semua pikiran pada penjelasan Pak Fab. Kantuk jadi agak terlupakan.
                Setelah beberapa menit berlalu, penyakit kantuk kembali mewabah dan menyeranh semua siswa. Anto berkeluh kesah di tempatnya, berharap lonceng pulang segera berbunyi, tapi yang dinanti-nanti tak kunjung dating. Kian mengerjap-ngerjap matanya sambil sesekali memukul jidatnya, berusaha mengusir kantuk tapi malah semakin menyiksanya, matanya memerah. Indra dan Kala lain lagi, mereka saling memijat telapak tangan, menekan sudut antara jari jempol dan telunjuk, berharap dengan begitu rasa kantuk bisas hilang,. Hasilnya nihil, mereka  menjadi bosan. Bobi memukul pelan perutnya sambil sesekali menguap lebar. Bias ditebak, si gendut itu pasti sudah sangat lapar.
                Pak Fab akhirnya menyadari tingkah murid-muridnya. Beliau melirik jam tangan, lima belas menit lagi. Ia mengangguk-angguk maklum. Pantas.
Ia kembali melirik murid-muridnya yang menahan kantuk dn lapar dengan sengsara. Timbul idenya untuk membuat murid-muridnya jera, hitung-hitung untuk membayar rasa kecewanya.
                “Catat semua yang sudah saya tulis di papan!” perintahnya tegas. Murid-murid langsung mengambil pulpen dan buku catatan, lalu mulai mencatat dengan malas.
Pak Fab tahu, tidak semua murid-muridnya benar-benar mencatat, yang lain pasti hanya sekedar mencoret-coret halaman buku catatannya, hanya berpura-pura mencatat untuk mengelabui beliau. Ia berusaha sabar.
                Tiba-tiba lonceng berbunyi panjang dengan sangat nyaring, semua murid langsung sumringah. Tapi jadi kecewa  karena semua catatan belum disalin habis dan karena Pak Fab belum memberikan tanda untuk mengakhiri catatanya. Mereka beramai-ramai melirik Pak Fab dengan penuh harap, Pak Fab cuek saj.
                “Pa…” Andi hendak protes, tapi Pak Fab langsung menyela,
                “Tambah lima belas menit lagi! Selesaikan catatan kalian, masih ada dua halaman lagi!” ujar Pak Fab dengan suara yang tak bisa  dibantah lagi. Murid-murid langsung lemas, sebagian langsung ambruk di meja.


                                                                                The end      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan