Index Labels

KAPAL KECIL DI ATAS BASKOM

. . Tidak ada komentar:
                                    
            Udara dingin menusuk, hujan ikut datang dengan derasnya. Langit tak terlihat, hanya kepulan awan abu-abu yang memenuhi angkasa. Sahut-menyahut halilintar menikam dan memecahakan cakrawala.
Selimutku semakin kurapatkan, angin dingin terus bertiup hendak membekukan tubuhku, alamat bisa demam.
            “ Dimana kau simpan jaket adik?” aku mendengar suara mama tak jauh di belakangku, kutengadah sedikit masih melipat kakiku di dalam selimut.
            “ Di gantungan lemari!” setelah mendengar sahutanku, mama langsung masuk ke kamar mengambil jaket adik.
Aku kembali terdiam, terhanyut dalam nada hujan yang bersahut-sahutan bersama halilintar, hawa dingin terus menusuk dan semakin menusuk, bulu kudukku sampai bergidik. Kurapatkan kembali selimutku kemudian menutup bagian belakang kepalaku, rasanya seperti berada di benua antartika.
            “ Kakak!” adikku berjalan pelan mendekatiku, sudah mengenakan jaketnya dan celana training panjang. Tangannya memegang dua baterai kecil, selotip dan seuntai kabel. Entah apa yang mau dilakukannya lagi, dingin-dingin begini masih sempat-semoatnya dia membuat experiment dengan baterai-baterainya.
            “ Kau mau apalagi? Jangan aneh-aneh!” ujarku ketus karena jengkel.
Dia tak menyahut, seolah tak perduli dengan pertanyaanku. Ia lalu berjalan ke meja, meletakkan semua alat experimennya.
Dia mulai mengutak-atik kabel dan baterai, mengaitkannya lalu melekatkannya dengan selotip.
Dia tampak tenang-tenang saja, dia membuat experimennya dengan teliti dan cekatan, tampak sangat yakin dengan yang dikerjakannya. Sebentar ia berlari ke kamar, mengambil entah apa, aku tak diberitahunya. Lagi-lagi dia ke kamar, aku melihatnya menggenggam gabus berukuran kecil, bagian depannya dipotong lengkung dan bagian belakangnya dipotong rata. Dia pasti sudah membentuknya sedemikian rupa jauh-jauh hari sebelumnya, seolah-olah sudah dipersiapkan dengan matang.
Dia kembali pada experimennya, meletakkan baterai yang telah dikaitkan dengan kabel dan dilekatkannya dengan selotip. Ia lalu mengambil benda kecil yang mungkin elemen utama dalam experimennya, ia mengacungkan benda itu padaku.
            “ Ini namanya dynamo!” ujarnya semangat menyembuhkan rasa ingin tahuku. Aku hanya ber-oh dalam hati.
Semua benda-benda itu digabungkan di atas gabus, disusun dengan teliti kemudian dilekatkan dengan selotip lalu dibungkusnya dengan pelastik transparan.
            “ Yang ini supaya tidak basah nantinya!” terangnya bak professor. Aku agak kesal, aku jadi merasa lima tahun di bawahnys. Tapi, sabar, experimennya belum selesai dan aku semakin penasaran saja.
            Ia lalu berjalan keluar rumah, hujan memang sudah berhenti tapi udara masih terasa sangat dingin. Aku enggan keluar dari selimutku. Tapi, sumpah! Rasa penasaranku semakin mendesakku untuk mengikutinya, apa yang mau dilakukannya dengan benda-benda itu? Akhirnya kuputuskan melepas selimutku lalu mengikutinya.
            Adik meletakkan gabus itu di atas baskom yang dipenuhi air hujan, gabus itu terapung. Aku mencoba menebak apa yang akan terjadi dengan gabus itu.
            “ Kamu mau buat apa?” tanyaku tak sabar. Dia tersenyum misterius, lalu mengaitkan sebuah kabel pada baterai, alhasil benda yang dia sebut dynamo langsung bergerak dan berputar, membuat gabus terdorong.
            “ Ah, FANTASTIS!” sorakku girang dan takjub.
Dia tersenyum puas memamerkan gigi susunya yang putih.
            “ Berapa usiamu, jelek?” tanyakyu gemas masih memperhatikan kapal kecilnya yang berlayar di atas baskom.
            “ Lima, pikun!” jawabnya dan kamipun tertawa bersama….



                                                            THE END  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan